Rieke ‘Oneng’ Diah Pitaloka Ingatkan, Jejak Praktik Kekuasaan Represif Tengah Merayap Kembali di Ruang Publik

Date:

DCNews, jakarta — Kekerasan dan propaganda, dua instrumen utama dalam mempertahankan kekuasaan otoriter, tak lagi sekadar bagian dari masa lalu. Dalam peluncuran bukunya yang terbaru di Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (17/5/2025), politisi dan intelektual Rieke Diah Pitaloka memperingatkan bahwa jejak praktik kekuasaan represif tengah merayap kembali ke ruang publik Indonesia.

Buku bertajuk “Propaganda dan Teror Kekuasaan: Kekerasan Negara Lahirkan Banalitas”, diangkat dari tesis magisternya di Universitas Indonesia (UI), lebih dari dua dekade lalu. Namun, menurut Rieke, relevansinya hari ini justru semakin mencolok.

“Kekerasan tidak hanya untuk menakuti. memaksa orang mengikuti ideologi, menelan kebohongan, dan akhirnya ikut melakukan kekerasan atas nama kebiasaan, terus menerus,” katanya dalam pidato politik yang menyertai peluncuran.

Diterbitkan oleh Sibermula, buku ini adalah versi ketiga dari karya yang sebelumnya telah terbit dengan judul berbeda pada 2004 dan 2010. Namun menurut Direktur Penerbit Sibermula, Kurnia Effendi, cetakan terbaru ini bukan sekadar reproduksi, melainkan alarm. “Buku ini penting agar kita tidak kehilangan memori kolektif terhadap represi negara. Kita harus waspada sebelum kekerasan kembali jadi kenormalan,” ujarnya melalui pernyataan tertulis.

Resonansi Orde Baru dan Arendt

Menggali pemikiran filsuf politik Hannah Arendt, Rieke menempatkan pengalaman Indonesia di masa Orde Baru dalam lensa konseptual totalitarianisme. Ia menyandingkan bagaimana kekuasaan Hitler dan Stalin dibangun lewat propaganda dan teror, dan bagaimana pola serupa muncul dalam konteks Indonesia — mulai dari kekerasan sistematis, represi pemikiran, hingga banalitas kekejaman.

“Masyarakat yang terus dipaksa tidak berpikir akan menerima kejahatan sebagai hal biasa. Mereka dijejali slogan kerja, kerja, kerja—tanpa ruang untuk menilai, bertanya, atau mengkritisi,” ujar Rieke yang juga dikenal publik lewat perannya sebagai Oneng dalam sitkom Bajaj Bajuri.

Ia menegaskan, kekuasaan tidak seharusnya dipakai untuk memanipulasi dan membungkam, melainkan menciptakan relasi sosial yang adil dan menjunjung pluralisme.

Diskusi Kritis dan Ingatan Sejarah

Peluncuran buku ini bertepatan dengan ulang tahun ke-45 Perpustakaan Nasional dan digelar dengan diskusi publik menghadirkan Prof. Bagus Takwin, Dekan Fakultas Psikologi UI, dan Romo Dr. Johanes Haryatmoko S.J., penulis pengantar edisi pertama dan kedua. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harga Emas Antam Naik Tipis Jadi Rp2,593 Juta per Gram pada 16 September 2026

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan Antam keluaran Logam...

Menkeu Baru Suahasil Nazara Diminta Jaga Stabilitas, Yield SBN Disebut Tembus 7%

DCNews, Jakarta — Menteri Keuangan Suahasil Nazara menghadapi tantangan menjaga...

Purbaya Klaim Pertumbuhan Ekonomi Naik Selama Setahun Jadi Menkeu, Serahkan Tongkat Estafet ke Suahasil

DCNews, Jakarta — Purbaya Yudhi Sadewa menilai kinerjanya selama...

OJK: Bunga Mekaar Turun Jadi 8 Persen, Permintaan Pinjol Produktif Tak Langsung Tertekan

DCNews, Jakarta — Penurunan suku bunga pinjaman program Membina...