DCNews, Beijing — Presiden China Xi Jinping bertemu Ketua Partai Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun di Beijing pada Jumat (10/4/2026) waktu setempat, dalam pertemuan simbolis yang mempertegas upaya Beijing merangkul oposisi Taiwan di tengah meningkatnya ketegangan lintas selat dan menjelang pembicaraan penting antara China dan Amerika Serikat.
Pertemuan di Balai Agung Rakyat itu menjadi pertemuan pertama dalam hampir satu dekade antara pemimpin Partai Komunis China dan ketua aktif KMT. Cheng datang ke China dalam lawatan enam hari yang ia sebut sebagai “perjalanan untuk perdamaian,” dengan pesan utama meredakan tensi militer di Selat Taiwan.
Xi mengatakan pertemuan tersebut bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas hubungan lintas selat serta mendorong perkembangan damai, menurut media resmi China yang dikutip BBC. Ia juga menegaskan kesiapan Beijing memperdalam pertukaran dengan KMT selama partai itu tetap menolak kemerdekaan Taiwan.
Kunjungan Cheng dimulai di Shanghai atas undangan Xi, lalu berlanjut ke Nanjing, tempat ia meletakkan karangan bunga di makam Sun Yat-sen, tokoh pendiri yang dihormati baik oleh KMT maupun Partai Komunis China. Di Shanghai, Cheng melontarkan pernyataan yang menjadi sorotan lawatan itu: “Yang harus terbang di langit adalah burung, bukan rudal. Yang harus berenang di air adalah ikan, bukan kapal perang.”
Lawatan ini berlangsung pada momen politik yang sensitif. Xi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut sedang mempersiapkan pertemuan pada Mei, dan sejumlah analis menilai Beijing menggunakan momentum pertemuan dengan Cheng untuk membentuk narasi soal Taiwan sebelum pembicaraan tersebut.
Di Taiwan, Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa mengecam keras kunjungan itu. Sejumlah pejabat DPP menilai Beijing tidak menunjukkan itikad meredakan ketegangan karena tetap menggelar patroli militer harian di sekitar pulau tersebut selama Cheng berada di China. Kementerian pertahanan Taiwan melaporkan mendeteksi enam pesawat militer China dan delapan kapal perang dalam 24 jam sebelum pertemuan Xi-Cheng.
Cheng, yang menjadi ketua KMT tahun lalu, berupaya menampilkan dirinya sebagai jembatan antara Taipei dan Beijing. Namun, langkah itu juga memicu kritik di dalam partainya sendiri. Sebagian pihak menilai agenda kunjungan terlalu dikendalikan Beijing dan akses media dibatasi ketat.
Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang ditolak untuk diajak bicara oleh Beijing karena dianggap sebagai tokoh “separatis,” mengatakan dirinya tetap terbuka terhadap dialog. Namun ia menegaskan bahwa masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan oleh rakyat Taiwan sendiri. ***

