DCNews, Jakarta — Pergerakan pasar global pada Minggu, 29 Maret 2026, menunjukkan dinamika yang beragam di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter global dan ketegangan geopolitik. Aset safe haven seperti emas kembali menguat, sementara indeks saham teknologi di Amerika Serikat cenderung tertekan.
Harga emas (gold) melanjutkan tren kenaikan tipis, didorong oleh meningkatnya permintaan lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Investor memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS dalam beberapa sesi terakhir, serta kekhawatiran terhadap inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Di sektor energi, harga minyak (oil) bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat terbatas. Pasar masih mencermati keseimbangan antara potensi perlambatan permintaan global dan kebijakan produksi dari negara-negara produsen utama. Faktor geopolitik di kawasan Timur Tengah juga tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi sentimen.
Pada pasar valuta asing, pasangan EUR/USD menunjukkan penguatan moderat. Euro mendapat dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di kawasan Eropa dibandingkan Amerika Serikat. Sementara itu, GBP/USD juga bergerak naik terbatas, seiring optimisme terhadap pemulihan ekonomi Inggris meski masih dibayangi tekanan inflasi domestik.
Berbeda dengan itu, USD/JPY mengalami pelemahan dolar terhadap yen Jepang. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman serta spekulasi bahwa Bank of Japan dapat mulai mengurangi kebijakan moneter ultra-longgar secara bertahap.
Dari pasar saham, indeks Nasdaq mengalami tekanan, terutama pada saham-saham teknologi. Kenaikan imbal hasil obligasi AS serta kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama menjadi faktor utama yang menekan sektor ini.
Secara keseluruhan, pasar global hari ini bergerak dalam pola “risk-off” ringan, di mana investor cenderung berhati-hati dan selektif dalam menempatkan dana.
Cerminan Fase Konsolidasi
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai bahwa kondisi pasar saat ini mencerminkan fase konsolidasi yang sehat setelah volatilitas tinggi beberapa waktu terakhir. Ia menekankan bahwa investor perlu mengedepankan strategi diversifikasi dan tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi jangka pendek.
Menurutnya, emas masih berpotensi menjadi instrumen unggulan dalam jangka menengah, sementara pasar saham, khususnya sektor teknologi, membutuhkan katalis baru untuk kembali menguat secara signifikan. ***

