DCNews, Yerusalem – Di tengah suasana Idulfitri yang seharusnya penuh sukacita, ketegangan justru menyelimuti kawasan Masjid Al-Aqsa. Ribuan warga Palestina dilaporkan tidak dapat melaksanakan salat Id di salah satu situs suci Islam tersebut akibat pembatasan ketat yang diberlakukan otoritas Israel.
Untuk pertama kalinya sejak Perang Enam Hari 1967, akses menuju kompleks Al-Aqsa ditutup hampir sepenuhnya bagi jamaah Palestina. Hanya sejumlah kecil penjaga dan staf Wakaf yang diizinkan masuk, sementara aparat keamanan dikerahkan secara besar-besaran di kawasan Kota Tua Yerusalem dengan pemasangan barikade di berbagai pintu masuk.
Saksi mata melaporkan aparat menembakkan gas air mata terhadap warga yang mencoba mendekat ke area masjid, termasuk di sekitar Gerbang Herodes. Akibatnya, banyak warga Palestina terpaksa menunaikan salat Id di jalanan, seperti di sekitar Gerbang Singa dan Gerbang Damaskus.
Meski akses dibatasi, gema takbir tetap terdengar dari menara Al-Aqsa. Warga tetap berupaya berkumpul di sekitar kompleks untuk beribadah, namun sebagian dilaporkan dibubarkan secara paksa oleh aparat. Pemerintah Yerusalem menyebut langkah tersebut sebagai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dinilai melanggar kebebasan beribadah.
Pembatasan serupa juga terjadi di Masjid Ibrahimi. Otoritas Israel memperketat pemeriksaan dan menutup sebagian besar akses masuk, sehingga hanya sekitar 50 hingga 80 jamaah yang diizinkan beribadah di dalam. Ribuan lainnya harus melaksanakan salat di luar area di bawah pengawasan militer.
Direktur masjid, Mu’taz Abu Suneina, menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengontrol akses ke situs yang ia tegaskan sebagai tempat ibadah umat Islam. Pembatasan di lokasi ini telah berlangsung sejak 1994, menyusul serangan di kompleks tersebut yang menewaskan puluhan warga Palestina.
Di Yerusalem, penutupan kawasan Kota Tua membuat suasana Ramadan yang biasanya semarak berubah drastis. Jalan-jalan yang lazimnya dipenuhi aktivitas ibadah dan perayaan tampak lengang, dengan akses terbatas hanya bagi penduduk tertentu. Kondisi ini turut menghambat tradisi silaturahmi keluarga saat Idulfitri.
Seorang jurnalis lokal melaporkan bahwa warga yang mencoba memasuki kawasan Kota Tua kembali dihadang dengan granat kejut dan gas air mata. Setelah salat di luar area, jamaah dilaporkan diminta membubarkan diri dan menjauh dari lokasi oleh aparat keamanan.
Penutupan Al-Aqsa terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konflik yang melibatkan Israel di kawasan Timur Tengah. Otoritas Israel menyatakan pembatasan dilakukan atas dasar keamanan selama Ramadan—periode yang biasanya menjadi satu-satunya waktu dalam setahun ketika sebagian warga Palestina diizinkan mengakses kompleks Al-Aqsa. ***

