DCNews, Jakarta – Meski laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 berada di level terendah dalam satu dekade, tekanan ekonomi justru terasa nyata bagi jutaan rumah tangga pekerja di Indonesia. Pinjaman online, yang kerap dikaitkan dengan perilaku konsumtif individu, kini menjadi mekanisme bertahan hidup bagi lebih dari 18 juta peminjam aktif, menyingkap rapuhnya fondasi kesejahteraan ekonomi di tengah perbaikan angka makro.
Paradoks di Balik Statistik Ketenagakerjaan
BPS melaporkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,7 persen pada Februari 2025, menandai perbaikan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, di balik angka positif ini, tekanan biaya hidup justru semakin menekan rumah tangga pekerja. Harga pangan yang fluktuatif, biaya transportasi yang naik, serta sewa hunian yang melonjak menjadi beban nyata, sementara pertumbuhan pendapatan berjalan lambat.
Pinjaman Online: Dari Perilaku Konsumtif ke Strategi Bertahan Hidup
Selama ini, pinjaman online sering dipersepsikan sebagai akibat perilaku konsumtif individu. Namun, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan realitas yang lebih luas. Pada 2025, jumlah peminjam aktif pinjaman daring mencapai lebih dari 18 juta orang, dengan total pinjaman outstanding sekitar Rp90 triliun. Skala fenomena ini menunjukkan bahwa pinjol bukan sekadar masalah perilaku, melainkan cerminan kebutuhan ekonomi yang mendesak.
Pekerja Produktif dan Sektor Informal yang Rentan
Data OJK dan survei terkait menunjukkan mayoritas pengguna pinjol berada dalam kelompok usia produktif yang bekerja, menantang asumsi bahwa bekerja otomatis berarti aman secara ekonomi. Sekitar 59 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal, di mana pendapatan fluktuatif, kontrak kerja lemah, dan minimnya perlindungan sosial menjadi norma. Secara statistik, mereka tercatat bekerja, tetapi secara ekonomi berada dalam posisi rapuh.
Upah Tertinggal dan Perlindungan Sosial Minim
Tekanan ekonomi semakin terasa ketika upah riil bergerak lambat dibanding kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini memperkuat ketergantungan rumah tangga terhadap pinjaman daring sebagai penyangga hidup sehari-hari. Fenomena ini menegaskan bahwa pertumbuhan lapangan kerja tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas perlindungan ekonomi bagi pekerja.
Kesimpulan
Fenomena pinjaman online di Indonesia mencerminkan masalah struktural yang lebih dalam daripada sekadar perilaku konsumtif. Meski pengangguran rendah, rapuhnya pendapatan, tingginya pekerja informal, dan perlindungan sosial yang minim membuat jutaan rumah tangga tetap berada dalam ketidakpastian finansial. Pinjol bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup. ***

