DCNews, Jakarta — Aktor senior Surya Saputra mengungkap pengalaman tidak menyenangkan setelah nomor ponselnya dicatut sebagai kontak jaminan pinjaman online (pinjol), yang berujung pada teror dari debt collector. Kasus ini menyoroti praktik penyalahgunaan data pribadi yang masih marak di industri pinjol dan minimnya perlindungan bagi pihak yang tidak terlibat langsung.
Peristiwa itu bermula ketika Surya menerima telepon dari orang tak dikenal yang langsung menagih utang dengan nada tinggi. Penagih tersebut meminta Surya mendesak seseorang—yang disebut sebagai peminjam—untuk segera melunasi kewajibannya.
“Ditelepon sama orang enggak dikenal, terus dimarah-marahin, ‘Suruh bayar tuh si ini!’ Saya sampai bilang, ‘Maaf, Anda salah orang. Saya bukan orang yang bersangkutan,’” ujar Surya, dikutip dari Kompas.com.
Meski telah menjelaskan bahwa dirinya bukan pihak terkait, penagih tetap bersikeras dengan alasan nomor Surya tercantum sebagai kontak jaminan.
“Mereka bilang, ‘Ya tapi dia bilang ini nomor Bapak.’ Ya bukan urusan saya,” lanjutnya.
Kronologi Pencatutan Nomor
Surya kemudian menjelaskan awal mula namanya terseret dalam persoalan tersebut. Ia mengaku hanya sekali bertemu dengan orang yang berutang dan saat itu sempat bertukar nomor telepon secara informal.
“Bukan keluarga, teman jauh, baru ketemu sekali, tukar nomor telepon,” kata Surya.
Saat itu, ia tidak menaruh kecurigaan apa pun. Namun belakangan Surya menyadari bahwa nomor ponselnya digunakan tanpa izin sebagai kontak jaminan dalam pengajuan pinjol.
“Dia taruh nomor telepon saya untuk jadi jaminan mereka. Itu kan kurang ajar,” tegasnya. Surya menekankan bahwa memiliki nomor seseorang bukan berarti mendapat persetujuan untuk mencantumkannya dalam dokumen pinjaman.
Kasus yang dialami Surya mencerminkan celah serius dalam verifikasi data pinjol, di mana pihak ketiga bisa ikut menjadi korban meski tidak pernah menandatangani perjanjian apa pun.
Pengalaman Pribadi Jadi Bahan Riset Film
Di tengah persoalan tersebut, Surya Saputra tengah membintangi film Menang Untuk Kalah, garapan sutradara Hastobroto. Ia berperan sebagai Bima, seorang kepala keluarga yang hidupnya runtuh akibat jeratan judi online (judol) dan pinjaman online.
Pengalaman diteror debt collector, menurut Surya, menjadi bahan riset emosional untuk mendalami karakter tersebut. Ia juga mengamati langsung dampak judol dan pinjol terhadap orang-orang di sekitarnya.
“Banyak yang hidupnya benar-benar hancur karena judi online dan pinjaman online,” ungkapnya.
Fenomena yang Lebih Luas
Kasus Surya Saputra menambah daftar panjang korban pencatutan data pinjol, sekaligus menjadi peringatan tentang risiko bertukar data pribadi secara sembarangan. Praktik penagihan yang agresif juga kembali memunculkan sorotan terhadap etika debt collector dan efektivitas pengawasan otoritas terhadap industri pinjaman digital. ***

