DCNews,Jakarta – Gelombang disrupsi digital yang mengubah wajah industri pers nasional tidak hanya mengguncang model bisnis media, tetapi juga menguji komitmen media siber terhadap integritas, akurasi, dan independensi jurnalistik, tiga prinsip yang menjadi fondasi kepercayaan publik.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat di Hall Dewan Pers, Jakarta, Selasa (16/12/2025). Forum ini digelar di tengah meningkatnya kekhawatiran atas maraknya disinformasi, tekanan algoritma platform digital, serta kompetisi klik yang kerap mendorong praktik jurnalistik instan.
Anggota Dewan Pengawas Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Dr Ariawan, S.AP., MH., MA., sebagaimana dikuitp, Jumat (19/12/2025) menegaskan bahwa kecepatan distribusi informasi di era digital tidak boleh mengorbankan standar jurnalistik.
Menurut Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), media siber justru memikul tanggung jawab lebih besar sebagai penyaring informasi di ruang publik yang semakin bising.
“Persaingan di platform digital memang keras, tetapi kredibilitas tetap menjadi mata uang utama media. Tanpa verifikasi dan keberpihakan pada fakta, media akan kehilangan legitimasi di mata publik,” ujar Dr. Ariawan.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian media yang terjebak pada logika viralitas, alih-alih kualitas editorial. Dalam jangka panjang, kata dia, pendekatan tersebut berisiko melemahkan fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan dan penjaga kepentingan publik.
Dr. Ariawan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas media dan lembaga pers untuk memperkuat ekosistem informasi nasional. “Adaptasi teknologi, harus berjalan seiring dengan penguatan etika, profesionalisme, dan tata kelola redaksi yang sehat,” imbuhnya.
Dalam forum yang sama, Ketua Umum SMSI Pusat menyatakan bahwa dialog nasional ini merupakan bagian dari upaya konsolidasi media siber di tengah perubahan lanskap industri. SMSI, kata dia, berkomitmen mendorong anggotanya tetap mematuhi Kode Etik Jurnalistik dan standar perusahaan pers, meskipun menghadapi tekanan ekonomi digital yang semakin kompleks.
Diskusi bertajuk “Media Baru Menuju Pers Sehat” itu mengulas berbagai tantangan struktural yang dihadapi media nasional, mulai dari keberlanjutan bisnis, dominasi platform global, hingga meningkatnya polarisasi informasi di ruang publik. Para peserta sepakat bahwa masa depan pers Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga kepercayaan publik di tengah arus informasi yang nyaris tak terbendung.
Dialog nasional tersebut dihadiri oleh pimpinan perusahaan pers, jurnalis, serta perwakilan organisasi media dari berbagai daerah. Sejumlah rekomendasi strategis diharapkan lahir dari forum ini, terutama untuk memperkuat peran media siber sebagai pilar demokrasi dan benteng terhadap disinformasi. ***

