DCNews, Jakarta — Para Menteri Keuangan negara-negara anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menyetujui peta jalan baru bertajuk Incheon Plan 2030 dalam pertemuan di Incheon, Korea Selatan, 21–22 Oktober 2025. Peta jalan tersebut menjadi panduan strategis bagi kebijakan keuangan dan ekonomi kawasan selama lima tahun ke depan, dengan menekankan empat pilar utama: inovasi, keuangan, kebijakan fiskal, serta akses dan peluang yang inklusif.
Kesepakatan ini merupakan hasil dari pertemuan bertema “Sustainable Growth and Shared Prosperity in the Region”, yang menghasilkan Joint Statement atau pernyataan bersama antara seluruh Menteri Keuangan APEC. Dokumen resmi ini menegaskan komitmen kolektif negara-negara anggota untuk membangun komunitas Asia-Pasifik yang terbuka, dinamis, tangguh, dan damai pada 2040.
“Incheon Plan menjadi tonggak penting bagi kolaborasi keuangan APEC, dengan fokus pada inovasi teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta perluasan akses ekonomi yang inklusif bagi masyarakat,” demikian tertulis dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan RI yang dikutip pada Senin (27/10/2025).
Indonesia dalam forum tersebut diwakili oleh Arief Wibisono, Staf Ahli Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, yang juga bertindak sebagai Plt. Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional Kementerian Keuangan.
Pertemuan APEC Finance Ministers Meeting (FMM) 2025 dipimpin oleh Koo Yun Cheol, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan Republik Korea. Dalam Joint Statement, terdapat empat isu utama yang disepakati.
Keempat isu dimaksud adalah kondisi ekonomi regional dan global; Inovasi dan keuangan digital; Kebijakan fiskal dan moneter; Kerja sama lintas sektor untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Pada hari kedua, digelar sesi gabungan antara Menteri Keuangan dan Menteri Reformasi Struktural APEC, yang membahas inovasi dan digitalisasi sebagai penggerak transformasi ekonomi kawasan.
Diskusi tersebut menyoroti bagaimana pengembangan kecerdasan buatan, reformasi regulasi, serta investasi pada riset dan pengembangan dapat memperkuat daya saing dan membuka peluang baru bagi pekerja dan bisnis di Asia-Pasifik.
Sesi gabungan ini juga menjadi jembatan menuju Pertemuan Tingkat Menteri Reformasi Struktural APEC (SRMM) yang akan melanjutkan pembahasan tentang peran reformasi struktural dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan mendorong pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan.
Dengan lahirnya Incheon Plan 2030, APEC diharapkan mampu menavigasi perubahan ekonomi global sekaligus memperkuat kolaborasi lintas negara menuju masa depan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan inovatif bagi kawasan Asia-Pasifik. ***

