DCNews, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menggenjot daya saing industri kecil menengah (IKM) sektor kulit, dengan merevitalisasi sentra produksi di berbagai daerah. Langkah ini diyakini mampu mendongkrak nilai ekspor produk kulit nasional yang mencapai USD 4,6 miliar atau sekitar Rp77,2 triliun pada tahun 2024.
Revitalisasi dilakukan melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK), termasuk pembangunan infrastruktur, pengadaan peralatan, pelatihan SDM, hingga pembukaan akses pasar ekspor. Salah satu sentra yang menjadi proyek percontohan adalah Sentra IKM Kulit Manding di Bantul, Yogyakarta, yang dikembangkan melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Ndalem Kulit Jogja (NKJ).
“Untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM, kami terus mendorong pengembangan sentra-sentra IKM di berbagai wilayah,” ujar Reni Yanita, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Senin (21/4/2025), di Jakarta.
Menurut Reni, sektor kulit memiliki kontribusi signifikan terhadap ekspor nasional, terutama dari subsektor alas kaki dan tas kulit. Ekspor alas kaki menyumbang USD 3,1 miliar atau Rp52 triliun, sementara tas dan produk sejenis dari kulit menyumbang USD 1,1 miliar atau Rp18,47 triliun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, produk kulit menjadi salah satu dari empat komoditas ekspor utama Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan.
Dengan program ini, Kemenperin berharap dapat memperkuat ekosistem industri nasional secara menyeluruh, melalui hilirisasi bahan baku lokal dan pengembangan komunitas IKM berbasis wilayah. ***

