DCNews, Jakarta – Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang secara resmi diterima oleh Amerika Serikat untuk memulai negosiasi tarif resiprokal—bagian dari strategi perdagangan AS yang kembali dihidupkan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Presiden Trump telah menunjuk Howard Lutnick, Duta Besar Greer (USTR), dan Menteri Keuangan (Menkeu) Scott Bessent sebagai pejabat utama yang bertanggung jawab dalam merumuskan kebijakan tarif perdagangan AS.
Departemen Perdagangan AS (DoC), yang memimpin pertumbuhan ekonomi dan kebijakan perdagangan, bertindak sebagai koordinator dalam negosiasi dengan negara mitra, termasuk Indonesia.
Delegasi Indonesia, yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menkoperekonomian) Airlangga Hartarto, bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick untuk menyampaikan proposal resmi negosiasi yang bertujuan menyeimbangkan defisit perdagangan AS serta memperkuat hubungan dagang bilateral.
“Kami menghargai kesediaan Menteri Lutnick untuk membuka ruang negosiasi tarif dan menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap perdagangan yang adil dan berimbang,” ujar Airlangga dalam pernyataan resminya dari Jakarta pada Minggu (20/4/2025).
Sebagai bagian dari proposal tersebut, lanjut Airlangga, Indonesia menawarkan peningkatan impor produk-produk asal AS, termasuk komoditas energi—minyak mentah, LPG, dan bensin—serta produk pertanian seperti kedelai, bungkil kedelai, dan gandum, yang memang tidak diproduksi di dalam negeri.
Delegasi juga menyampaikan keinginan Indonesia untuk memperdalam kerja sama dalam sektor mineral kritis, mendorong investasi dari AS, serta menyelesaikan hambatan non-tarif (NTB) yang selama ini menjadi perhatian pengusaha AS di Indonesia.
Saling Menguntungkan
Menteri Lutnick menyambut baik proposal konkret dari Indonesia, menyebutnya sebagai “nyata dan saling menguntungkan”—berbeda dengan beberapa negara lain yang juga mengajukan proposal tetapi belum diterima oleh pihak AS.
“Kami mengapresiasi langkah konkret Indonesia dalam memulai negosiasi tarif. Ke depan, AS dan Indonesia akan terus membangun hubungan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Lutnick, sambil menyetujui target penyelesaian negosiasi dalam waktu 60 hari.
Ia juga mendorong agar segera disusun jadwal pembahasan teknis secara rinci bersama DoC dan USTR.
Tim negosiasi Indonesia yang mendampingi Menko Airlangga antara lain Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, dan Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.
Hadir pula Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono, serta Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI Washington DC, Ida Bagus Made Bimantara. ***

