DCNews, Jakarta – Di tengah polemik royalti musik yang belakangan memicu keresahan pelaku usaha, sejumlah musisi papan atas Indonesia justru mengambil langkah tak biasa: membebaskan lagu-lagu mereka diputar di restoran, kafe, bahkan dinyanyikan ulang tanpa pungutan royalti.
Fenomena ini mencuat saat perdebatan soal tarif royalti meluas, bahkan mencakup musik instrumental hingga suara alam seperti kicau burung. Tak sedikit pelaku usaha memilih menonaktifkan musik demi menghindari potensi tagihan royalti.
Namun, bagi Ahmad Dhani, Charly Van Houten, Rhoma Irama, dan Thomas Ramdhan, musik bukan sekadar soal hak eksklusif. Mereka menyatakan secara terbuka bahwa karyanya boleh dinikmati publik tanpa beban biaya, selama tidak digunakan untuk kepentingan komersial besar.
1. Ahmad Dhani – Dewa 19
Pentolan Dewa 19 ini mengumumkan bahwa semua lagunya, termasuk kolaborasi bersama Virzha dan Ello, boleh diputar gratis di kafe atau restoran.
“Restoran yang punya banyak cabang dan ingin memutar lagu Dewa 19, Ahmad Dhani sebagai pemilik master kasih gratis kepada yang berminat,” tulis pentolan Dewa 19 itu di media sosialnya, dikutip DCNews, Minggu (10/8/2025).
2. Charly Van Houten
Vokalis Setia Band ini bukan hanya mengizinkan lagunya diputar, tapi juga berjanji memberi hadiah bagi siapa pun yang memutarkan karyanya saat ia berkunjung ke tempat tersebut. “Kalau saya ada di kafe atau restoran dan lagunya diputar, saya kasih hadiah,” ujarnya.
3. Rhoma Irama
Raja dangdut ini menegaskan seluruh penyanyi bebas membawakan lagu ciptaannya tanpa khawatir ditagih. “Silakan nyanyi sepuas-puasnya, enggak usah bayar sama saya,” ucapnya di kanal YouTube pribadinya.
4. Thomas Ramdhan – GIGI
Bassist GIGI ini menggratiskan lagunya untuk dibawakan band atau penyanyi kafe dengan bayaran di bawah Rp5 juta per acara. Namun, ia memberi catatan khusus.
“Kalau untuk iklan atau produk komersial, tetap harus izin ke publisher,” jelasnya.
Langkah para musisi ini menjadi sorotan di tengah perdebatan hak cipta yang kian kompleks, memperlihatkan bahwa sebagian seniman memilih mendahulukan akses dan apresiasi publik dibanding keuntungan finansial langsung. ***

