DCNeww, Washington DC – Di tengah kebuntuan diplomasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump mendorong kedua negara memperluas upaya perdamaian setelah gencatan senjata lokal di Oleshky, wilayah Kherson yang diduduki Rusia, memungkinkan evakuasi warga sipil dari kawasan yang terkepung konflik.
Seruan tersebut disampaikan Melania dalam sebuah acara di Gedung Putih, Kamis (5/11/2026) waktu setempat. Gedung Putih menyebut Melania berperan dalam memediasi kesepakatan penghentian pertempuran sementara yang membuka jalan bagi warga sipil untuk meninggalkan Oleshky.
Selama berbulan-bulan, warga kota tersebut menghadapi situasi kemanusiaan yang memburuk akibat serangan udara dan embargo pangan yang diberlakukan Rusia. Para pengungsi akhirnya berhasil kembali ke wilayah Ukraina yang berada di bawah kendali pemerintah pada 31 Oktober.
Melania berharap keberhasilan kesepakatan kemanusiaan tersebut dapat menjadi titik awal bagi penyelesaian konflik yang lebih luas.
“Saya berharap Oleshky dapat menginspirasi terciptanya perdamaian yang lebih luas,” kata Melania. “Bersama-sama, kita dapat menciptakan sesuatu yang lebih bertahan lama daripada gencatan senjata sementara.”
Namun, harapan tersebut masih menghadapi tantangan besar. Pertempuran di sekitar Oleshky kembali pecah pada Senin setelah sempat mereda selama enam hari. Sementara itu, upaya mencapai kesepakatan damai yang lebih luas masih menemui jalan buntu, dengan pertempuran terus berlangsung di berbagai titik sepanjang garis depan.
Pertemuan di Gedung Putih itu mempertemukan delegasi Rusia dan Ukraina dalam suasana yang relatif tidak biasa di tengah konflik berkepanjangan. Pemerintahan Presiden Donald Trump memanfaatkan momentum tersebut untuk menyoroti keberhasilan diplomasi kemanusiaan, meskipun janji Trump mengakhiri perang sejak hari pertama kembali menjabat belum terwujud.
Momentum diplomasi tersebut juga berlangsung hanya dua hari setelah Partai Republik mengalami kekalahan telak dalam pemilihan paruh waktu. Hasil pemilu itu berpotensi mempersempit ruang politik Trump, terutama setelah Partai Demokrat diperkirakan menguasai Kongres tahun depan dan berjanji memperketat pengawasan terhadap kebijakan luar negeri pemerintahannya, termasuk penanganan perang Ukraina.
Dalam beberapa pekan menjelang pemilu, Trump meningkatkan tekanan terhadap Kyiv dengan menyebut Ukraina sebagai penghambat utama tercapainya perdamaian. Di sisi lain, pemerintahannya mengamankan kesepakatan yang memungkinkan Rusia memasok solar ke pasar global.
Kebijakan tersebut memicu kritik dari Partai Republik maupun Demokrat. Para pengkritik menilai kesepakatan energi itu berisiko memberikan tambahan sumber pendanaan bagi Kremlin untuk mempertahankan mesin perangnya, meskipun pemerintah AS berupaya meredam tekanan harga energi di pasar domestik.
Delegasi Rusia dalam pertemuan tersebut antara lain diwakili utusan Presiden Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, yang terlibat dalam perundingan bersama utusan AS Jared Kushner dan Steve Witkoff. Hadir pula Komisioner Hak Asasi Manusia Rusia Yana Lantratova.
Sementara itu, Ukraina mengirim David Arakhamia, pemimpin partai Presiden Volodymyr Zelenskyy di parlemen, serta Dmytro Lubinets yang memimpin perundingan gencatan senjata. Dmitriev dan Arakhamia masing-masing menyampaikan pidato, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Melania, sekaligus menyerahkan hadiah kepada ibu negara AS tersebut.
Di luar perkembangan diplomasi, situasi keamanan Ukraina justru semakin memburuk. Rusia meningkatkan serangan terhadap infrastruktur vital, mulai dari pelabuhan, pembangkit listrik, jalur kereta api hingga bangunan tempat tinggal dan tempat usaha. Gelombang serangan tersebut menyebabkan jumlah korban sipil tertinggi sejak invasi skala penuh dimulai.
Salah satu serangan terjadi pada Senin ketika Rusia membombardir sebuah sekolah di desa Ukraina selatan dekat garis depan. Saat itu, warga tengah berkumpul untuk menerima bantuan kemanusiaan. Presiden Zelenskyy pada Kamis mengatakan bangunan sekolah tersebut hancur menjadi puing-puing dan sekitar 100 orang kemungkinan tewas.
Di sisi lain, Ukraina juga terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Bloomberg melaporkan pada Kamis bahwa salah satu kilang minyak terbesar Rusia menjadi sasaran serangan pada malam sebelumnya.
Kilang Ryazan milik Rosneft PSC, yang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 340.000 barel minyak per hari, memasok bahan bakar untuk wilayah sekitar Moskow. Fasilitas tersebut juga telah beberapa kali menjadi sasaran serangan Ukraina sepanjang tahun ini.
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, Zelenskyy berada di Madrid untuk bertemu dengan sejumlah sekutu Eropa. Kunjungan tersebut dilakukan menjelang perundingan antara delegasi Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi pekan depan.
Pertemuan tersebut diperkirakan membahas kemungkinan skema gencatan senjata, termasuk opsi penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi. Namun, keberhasilan perundingan masih bergantung pada kesediaan kedua pihak menghentikan serangan dan membangun kesepakatan yang dapat dipertahankan.
Keberhasilan evakuasi warga sipil di Oleshky menjadi salah satu perkembangan kemanusiaan yang menonjol di tengah perang. Meski demikian, jalan menuju perdamaian permanen masih panjang, sementara masyarakat sipil tetap menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampak konflik. ***

