DCNews, Wina — Serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir utama Iran di Isfahan pada akhir pekan lalu menimbulkan kerusakan kritis yang dapat menghentikan sebagian besar siklus bahan bakar uranium Republik Islam selama berbulan-bulan, menurut laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dalam laporan yang dirilis Jumat malam, IAEA menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas konversi uranium di Isfahan —sekitar 400 kilometer di selatan Teheran— menyebabkan kerusakan serius pada satu-satunya lokasi Iran yang mampu mengubah uranium mentah menjadi bahan baku yang diperlukan untuk proses pengayaan. Tanpa kapasitas ini, kemampuan Iran untuk menghasilkan uranium yang diperkaya bakal tersendat.
“Jika bagian dari alur proses itu terganggu, maka siklus bahan bakar tidak bisa berjalan lagi. Ujung awal dari program mereka akan mati,” kata Robert Kelley, insinyur nuklir asal AS dan mantan kepala inspektur IAEA di Irak dan Libya.
Meskipun kampanye udara Israel gagal menembus kompleks pengayaan bawah tanah Fordow dan hanya merusak infrastruktur permukaan di Natanz, para analis mengatakan serangan itu tetap signifikan. Selain memukul jalur produksi bahan bakar nuklir, serangan tersebut menewaskan sembilan ilmuwan senior yang disebut sangat krusial dalam program nuklir Iran.
Para diplomat dari negara-negara anggota Dewan Gubernur IAEA akan menggelar sidang darurat di Wina, Senin ini, untuk membahas dampak serangan serta gangguan terhadap kemampuan IAEA dalam memverifikasi cadangan uranium Iran — yang kini berada sangat dekat dengan tingkat senjata nuklir.
Israel belum memutuskan apakah akan melanjutkan kampanye militernya, namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut sedang meninjau laporan kerusakan secara menyeluruh. Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa kelanjutan serangan dapat mendorong Iran mengalihkan aktivitas nuklirnya lebih jauh ke bawah tanah dan mengusir inspektur IAEA, memperlemah transparansi program nuklirnya.
Iran Luncurkan Rudal Balistik
Sebagai tanggapan, Iran telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke sejumlah kota Israel sejak Jumat malam, memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas di kawasan.
Kelsey Davenport, Direktur Kebijakan Non-Proliferasi di Arms Control Association, menyebut serangan ini berpotensi besar menutup akses IAEA dalam jangka panjang. “Ada risiko nyata bahwa Iran mungkin akan mengalihkan uranium yang telah diperkaya ke lokasi rahasia, atau IAEA tidak dapat melacak seluruh bahan nuklir tersebut,” katanya.
Davenport menambahkan bahwa meski serangan tidak sepenuhnya menghentikan program nuklir Iran, kemajuannya kemungkinan besar akan melambat.
Iran saat ini memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi —cukup untuk digunakan dalam tiga hingga empat senjata nuklir jika difungsikan sebagai bahan baku. Menurut Kelley, bahan tersebut dapat disimpan dalam tiga atau empat silinder kecil yang mudah disembunyikan.
Sementara itu, potensi Iran untuk keluar dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan mengusir para inspektur PBB memunculkan ancaman baru bagi keamanan global.
“Sudah jelas bahwa belum ada penilaian penuh. Namun kombinasi serangan udara dan pembunuhan terhadap ilmuwan kunci akan membuat Iran sangat sulit membangun kembali programnya ke tingkat sebelum serangan,” kata Suzanne Maloney, Wakil Presiden Brookings Institution di Washington. ***

