Pinjol Bermasalah Didominasi Anak Muda, OJK Soroti Risiko Kredit

Date:

DCNews, Jakarta — Kelompok usia muda menjadi penyumbang terbesar pembiayaan bermasalah di industri pinjaman daring atau fintech peer-to-peer lending (Pindar) pada Juli 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat debitur berusia 19-34 tahun menyumbang 48,22% dari total outstanding pembiayaan bermasalah.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan dominasi kelompok usia tersebut menjadi salah satu karakteristik yang terus dipantau regulator dalam perkembangan kualitas pembiayaan Pindar.

“Pembiayaan bermasalah industri Pindar pada Juli 2026 didominasi oleh kelompok usia 19-34 tahun dengan porsi 48,22% dari total outstanding bermasalah,” kata Agusman, dikutip Selasa (15/9/2026).

Dari sisi gender, laki-laki memiliki porsi outstanding pembiayaan bermasalah lebih besar dibandingkan perempuan, yakni 54,22%. Data tersebut menunjukkan risiko pembiayaan tidak hanya berkaitan dengan besarnya penyaluran, tetapi juga karakteristik debitur yang menggunakan layanan Pindar.

OJK, kata Agusman, terus mendorong penyelenggara Pindar memperkuat kualitas penilaian kredit atau credit scoring. Langkah tersebut diperlukan agar penyaluran pembiayaan lebih sesuai dengan kemampuan dan profil risiko debitur. “OJK terus mencermati perkembangan kualitas pembiayaan Pindar berdasarkan karakteristik debitur,” ujarnya.

Tekanan kualitas pembiayaan juga terlihat dari jumlah penyelenggara dengan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) di atas 5%. Pada Juli 2026, terdapat 16 perusahaan Pindar dalam kategori tersebut, sama seperti bulan sebelumnya. “Pada Juli 2026, terdapat 16 Penyelenggara Pindar dengan TWP90 di atas 5%, jumlah yang sama dengan Juni 2026,” kata Agusman.

Secara agregat, TWP90 industri Pindar tercatat 4,32% pada Juli 2026. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan OJK untuk memantau tingkat risiko pembiayaan dalam industri pinjaman digital.

Di sektor perusahaan pembiayaan, outstanding pembiayaan tumbuh 2,01% secara tahunan menjadi Rp513,05 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan terutama ditopang pembiayaan modal kerja yang meningkat 6,32% secara tahunan. Sementara itu, rasio non-performing financing (NPF) gross tercatat 3,03% dan NPF net 0,81%.

Berbeda dengan perusahaan pembiayaan, industri modal ventura mengalami kontraksi 0,46% secara tahunan. Nilai pembiayaan yang disalurkan pada Juli 2026 tercatat Rp16,32 triliun.

Sementara itu, industri pergadaian mencatat pertumbuhan jauh lebih tinggi, yakni 50,73% secara tahunan menjadi Rp160,78 triliun. Sebagian besar pembiayaan tersebut berasal dari produk gadai yang mencapai Rp136,39 triliun atau sekitar 84,83% dari total pembiayaan industri pergadaian. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

OJK Hapus Batas Pinjaman di Tiga Pindar, Risiko Utang Jadi Sorotan

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut batasan...

KPK Sita 20 Koper Uang dalam OTT Dugaan Korupsi Pengurusan HGB di Jabodetabek

DCNews, Jakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sekitar...

KPK Amankan 17 Orang dalam OTT Dugaan Korupsi HGB di Bogor, Ada Pejabat Pertanahan dan Politikus Golkar

DCNews, Jakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan 17...

Harga Emas Antam Turun Rp10.000 Jadi Rp2,592 Juta per Gram, Buyback Anjlok Rp15.000

DCNews, Jakarta – Harga emas batangan Antam keluaran Logam...