DCNews, Washington DC — Upaya Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah melalui perluasan program pembelian kembali atau buyback justru mendapat ujian berat. Operasi perdana dengan nilai hingga US$6 miliar pada Rabu (9/9/2026) tidak mampu membalikkan tekanan di pasar Treasury, ketika kenaikan harga minyak kembali memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi.
Departemen Keuangan AS sebelumnya meningkatkan batas pembelian kembali surat utang jangka panjang menjadi maksimal US$6 miliar, tiga kali lipat dari nilai operasi yang diumumkan pada bulan sebelumnya. Namun, langkah tersebut tidak cukup untuk meredakan tekanan di pasar Treasury yang nilainya mencapai sekitar US$32 triliun.
Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun bahkan kembali naik hingga 4,85 persen setelah pengumuman Departemen Keuangan. Level tersebut menempatkannya di sekitar titik tertinggi sejak 2023, sekaligus menunjukkan betapa sulitnya upaya Bessent menekan biaya pinjaman pemerintah AS.
Tekanan tersebut muncul ketika investor menghadapi kombinasi persoalan yang sulit dikendalikan pemerintah: harga energi yang meningkat, kekhawatiran inflasi, ekspektasi perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta defisit anggaran AS yang berada pada tingkat historis tinggi.
Ekspektasi pasar terhadap operasi buyback sebenarnya telah meningkat sehari sebelumnya. Bessent secara terbuka menyebut kemungkinan nilai pembelian lebih dari US$4 miliar, jauh di atas batas awal US$2 miliar.
Namun, ketika Departemen Keuangan akhirnya menetapkan batas hingga US$6 miliar, pasar tidak mendapatkan kejutan yang diharapkan.
“Ini seperti Departemen Keuangan menciptakan monster yang kini harus terus mereka beri makan,” kata Steven Zeng, ahli strategi Deutsche Bank AG.
Kegagalan buyback memberikan dampak besar menunjukkan keterbatasan instrumen tersebut dalam menghadapi kekuatan fundamental pasar. Program pembelian kembali dapat membantu memperbaiki likuiditas dengan memberi kesempatan kepada bank dan institusi keuangan menjual surat utang yang lebih sulit diperdagangkan.
Namun, program itu tidak serta-merta menentukan tingkat imbal hasil Treasury secara keseluruhan.
Bessent sendiri mengakui persoalan tersebut. Dalam sebuah acara di Texas pada Selasa, ia mengatakan tidak dapat mengubah harga “keseimbangan” surat utang AS. Menurut dia, tujuan pemerintah lebih terbatas, yakni memperlambat pergerakan pasar dan mencegah terbentuknya narasi yang dapat memperburuk tekanan terhadap surat utang AS.
Pernyataan itu mencerminkan dilema yang dihadapi pemerintah Presiden Donald Trump. Washington ingin menekan biaya pinjaman jangka panjang, tetapi pada saat bersamaan harus berhadapan dengan tekanan inflasi, kebijakan moneter Federal Reserve, dan kebutuhan pembiayaan akibat defisit anggaran yang besar.
“AS tidak akan mampu membayar utangnya. Itu tidak masuk akal, tetapi entah bagaimana menjadi narasi yang dominan,” kata Bessent, menjelaskan salah satu kekhawatiran yang menurutnya ikut mendorong perubahan strategi.
Tekanan pasar terlihat semakin jelas dalam lelang Treasury pada Rabu. Departemen Keuangan menjual surat utang tenor 10 tahun senilai US$39 miliar dengan imbal hasil 4,834 persen. Angka tersebut menjadi imbal hasil tertinggi dalam lelang tenor tersebut sejak 2007.
Bagi investor, angka tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pemerintah memengaruhi pasar obligasi melalui buyback menghadapi batas yang besar.
Kepala Ekonom Evercore ISI Krishna Guha dan sejumlah koleganya menilai pengumuman terbaru Departemen Keuangan menunjukkan Bessent mulai menerima keterbatasan program tersebut.
Bessent kemungkinan menyadari bahwa pemerintah AS tidak dapat secara berkelanjutan mencegah faktor-faktor fundamental menentukan tingkat imbal hasil Treasury, tulis mereka dalam sebuah catatan.
Risiko Strategi Treasury Twist
Perluasan program buyback pada Agustus mengejutkan investor karena diumumkan di luar jadwal kuartalan reguler Departemen Keuangan. Langkah tersebut memunculkan spekulasi bahwa pemerintahan Trump sedang mengubah pendekatan pengelolaan utang AS yang selama ini dikenal dengan prinsip “teratur dan terprediksi”.
Bessent bahkan menyebut strategi tersebut sebagai “Treasury twist”, merujuk pada Operation Twist yang pernah digunakan Federal Reserve untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang.
Namun, perkembangan terbaru justru menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya percaya bahwa buyback dapat menjadi alat efektif untuk menahan kenaikan imbal hasil.
Setelah pengumuman perluasan program pada 19 Agustus, imbal hasil Treasury memang sempat turun. Namun, penurunan itu dengan cepat berbalik. Bessent mengubah pendekatan tersebut setelah imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007.
Investor juga melihat persoalan ini dalam konteks politik. Kenaikan imbal hasil Treasury telah mendorong suku bunga kredit perumahan di AS ke level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rumah tangga dan perekonomian menjelang pemilihan Kongres pada November.
Seorang pejabat pemerintahan Trump yang dikutip Fox Business mengatakan Departemen Keuangan secara rutin memantau operasi buyback dan dapat menyesuaikannya jika diperlukan untuk menjaga kelancaran pasar serta likuiditas.
Secara teknis, batas US$6 miliar bukan berarti Departemen Keuangan pasti membeli Treasury sebesar nilai tersebut. Namun, dalam operasi yang menargetkan surat utang nominal jangka panjang, Departemen Keuangan cenderung membeli seluruh jumlah yang ditawarkan.
Sejak program tersebut kembali diperkenalkan pada 2024, Departemen Keuangan hanya dua kali tidak melakukan pembelian penuh dalam 52 operasi serupa.
Karena itu, perhatian pasar kini beralih pada apakah Bessent akan kembali meningkatkan skala buyback dalam operasi berikutnya.
Zeng mengatakan Departemen Keuangan masih memiliki ruang untuk melakukan pembelian lebih besar. Dokumen tanya jawab Departemen Keuangan menyebutkan pengumuman final buyback biasanya dirilis pada pukul 11.00 pada hari operasi dan secara otomatis menggantikan pengumuman awal.
Sebagian analis memperkirakan nilai operasi mendatang mungkin tidak akan jauh melampaui US$10 miliar. Namun, ada pula yang menilai tidak terdapat batas atas yang jelas apabila pemerintah memutuskan untuk terus memperbesar program tersebut.
“Bessent, baik melalui kata-kata maupun tindakannya, memberi tahu investor untuk tidak menguji keberuntungan mereka pada obligasi bertenor 30 tahun,” kata Joseph Purtell, manajer portofolio Neuberger Berman.
Menurut Purtell, Bessent memiliki ruang untuk meningkatkan nilai buyback secara agresif, bahkan hingga puluhan miliar dolar.
Persoalannya, semakin besar intervensi yang dilakukan Departemen Keuangan, semakin besar pula ekspektasi pasar terhadap langkah berikutnya. Jika program itu terus diperbesar tetapi fundamental seperti inflasi, defisit, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap menekan imbal hasil, Washington berisiko terjebak dalam siklus intervensi yang harus terus ditingkatkan untuk menghasilkan dampak yang sama.
Dengan demikian, ujian terbesar Bessent bukan sekadar seberapa besar Treasury dapat dibeli kembali, melainkan apakah pemerintah dapat meyakinkan pasar bahwa strategi tersebut mampu memperbaiki likuiditas tanpa menciptakan ketergantungan baru terhadap intervensi Departemen Keuangan. ***

