DCNews, Jakarta — Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan Indonesia mampu menentukan arah dan penilaian pasar modalnya sendiri di tengah rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengkaji perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pernyataan Dasco muncul setelah pengumuman MSCI pada 16 Oktober 2026 memicu perhatian pelaku pasar terhadap prospek investasi di Indonesia. Melalui akun Instagram pribadinya, Dasco menyampaikan pesan tentang pentingnya kebersamaan dan semangat nasionalisme dalam menghadapi tekanan terhadap pasar modal domestik.
“Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri,” tulis Dasco, seperti dikutip pada Minggu (25/10/2026).
Ketua Harian Partai Gerindra itu juga menyerukan agar Indonesia tetap bersatu dan terus berjuang menghadapi berbagai tantangan. “Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju Bangsa Pemenang,” tulisnya.
Pengumuman MSCI menjadi perhatian karena perubahan klasifikasi pasar dapat memengaruhi posisi saham Indonesia dalam portofolio investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi. Perubahan status tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana asing dan persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti sejumlah persoalan, antara lain transparansi struktur kepemilikan saham, keterbatasan data untuk menilai kepemilikan publik secara akurat, serta kekhawatiran mengenai praktik perdagangan yang terkoordinasi. Persoalan tersebut berkaitan dengan kejelasan kepemilikan saham, pengukuran free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan, serta kredibilitas pembentukan harga di bursa.
MSCI menyatakan konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar Indonesia akan berlangsung sebelum keputusan final diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Selama proses tersebut, penyedia indeks global itu juga mempertahankan pembatasan terhadap sejumlah perubahan indeks terkait saham Indonesia.
Situasi ini menambah tekanan terhadap pasar modal domestik yang sebelumnya menghadapi aksi jual investor asing dan kekhawatiran mengenai prospek investasi. Otoritas pasar modal Indonesia pun menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa reformasi tata kelola, transparansi kepemilikan, dan kualitas data pasar dapat dilakukan secara konkret dan terukur.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menyatakan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan, termasuk terkait rencana MSCI tersebut. Dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna pada Rabu (21/10/2026), Prabowo mengatakan pemerintah menyadari masih banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi tidak akan menyerah.
“Macam-macam MSCI, macam-macam demo takut-takuti kita. Saya katakan ke MSCI, bangsa Indonesia tidak takut dan tidak akan gentar. Kita tidak takut, kita punya keberanian dan kita rela berkorban dan kita tidak menyerah,” kata Prabowo.
Pernyataan Dasco dan Prabowo menegaskan sikap pemerintah dan pimpinan DPR dalam menghadapi persoalan tersebut. Namun, kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia tetap akan bergantung pada langkah perbaikan yang dapat diukur, terutama dalam hal transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dan integritas perdagangan. ***

