DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang dipasarkan Pegadaian masih menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat (19/6/2026), seiring tingginya minat masyarakat terhadap instrumen lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan.
Berdasarkan data Pegadaian, tiga produk emas yang tersedia, yakni Antam, UBS, dan Galeri24, diperdagangkan pada level yang relatif tinggi. Untuk ukuran 1 gram, harga emas Antam dibanderol Rp2.848.000, UBS Rp2.759.000, dan Galeri24 Rp2.729.000. Pergerakan harga tersebut menunjukkan selisih harga yang cukup tipis antarproduk, sehingga memberikan lebih banyak pilihan bagi investor sesuai kebutuhan likuiditas dan tujuan investasi.
Berikut rincian harga emas Pegadaian per gram pada hari ini:
Produk Emas. Harga 1 Gram
Antam. Rp2.848.000
UBS. Rp2.759.000
Galeri24. Rp2.729.000
Sementara untuk pecahan yang lebih kecil, emas Antam ukuran 0,5 gram dipasarkan Rp1.476.000, UBS Rp1.491.000, dan Galeri24 Rp1.431.000. Adapun investor yang mengincar pembelian dalam jumlah besar juga dapat memilih berbagai ukuran hingga 100 gram untuk Antam, 500 gram untuk UBS, serta 1 kilogram untuk Galeri24.
Kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian arah suku bunga global, tensi geopolitik, serta kekhawatiran perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju. Kondisi tersebut membuat emas tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak diburu masyarakat Indonesia.
Meski demikian, investor disarankan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga harian. Faktor seperti spread harga beli dan jual kembali (buyback), tujuan investasi, serta jangka waktu kepemilikan perlu menjadi pertimbangan sebelum melakukan transaksi.
Analisis Dahlan Consultant: Harga Emas Masih Bisa Bertahan pada Level Tinggi
Menurut Konsultan Keuangan sekaligus Pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan atau yang akrab disapa Kang Dahlan, tren harga emas masih berpotensi bertahan pada level tinggi sepanjang 2026 selama ketidakpastian ekonomi global belum mereda.
“Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang. Namun masyarakat jangan terjebak euforia kenaikan harga harian. Strategi akumulasi bertahap atau dollar cost averaging masih lebih bijak dibandingkan membeli sekaligus pada saat harga sedang tinggi,” ujar Kang Dahlan.
Ia menambahkan bahwa investor pemula sebaiknya menjadikan emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio, bukan satu-satunya aset investasi. Menurutnya, alokasi emas sekitar 10% hingga 20% dari total portofolio dapat membantu menjaga nilai kekayaan saat pasar keuangan mengalami gejolak.
“Yang terpenting bukan mengejar harga tertinggi atau terendah, tetapi konsisten membangun aset. Emas sangat cocok untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang, terutama di tengah risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi global,” kata Kang Dahlan. ***

