Ekonomi Terpukul Skandal Korupsi, Filipina Pangkas Suku Bunga

Date:

DCNews, Bangkok — Di tengah tekanan terhadap ekonomi domestik akibat skandal korupsi besar, bank sentral Filipina kembali melonggarkan kebijakan moneternya. Otoritas moneter negara itu memangkas suku bunga acuan untuk keenam kali berturut-turut, seraya memberi sinyal bahwa arah kebijakan berikutnya sangat bergantung pada pemulihan kepercayaan pasar.

Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menurunkan target reverse repurchase rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada Kamis (19/2/2026). Keputusan tersebut sejalan dengan perkiraan mayoritas ekonom dalam survei Bloomberg News.

Gubernur BSP Eli Remolona mengatakan kebijakan moneter kini bersifat lebih kondisional. Menurutnya, ruang pelonggaran selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika kepercayaan publik dan kinerja pertumbuhan ekonomi.

“Kami kini berada dalam situasi di mana kebijakan lebih bersifat kondisional, tergantung pada apa yang terjadi terhadap kepercayaan publik dan pertumbuhan,” ujar Remolona dalam pengarahan pers.

Pemangkasan terbaru ini membuat total penurunan suku bunga mencapai 225 basis poin sejak Agustus 2024. Meski demikian, Remolona mengakui bank sentral masih mencermati arah ekonomi ke depan.

Ia menegaskan BSP akan tetap mendukung pertumbuhan selama langkah tersebut tidak memicu lonjakan inflasi.

Respons Pasar Terbatas

Setelah pengumuman kebijakan, peso Filipina melemah sekitar 0,2% ke level 57,996 per dolar AS. Sementara itu, indeks saham utama Manila menguat tipis sekitar 0,2%, mencerminkan respons pasar yang relatif terbatas.

Para pengambil kebijakan berharap biaya pinjaman yang lebih rendah dapat memulihkan kepercayaan konsumen dan dunia usaha. Upaya ini dilakukan setelah muncul laporan praktik suap meluas dalam proyek-proyek infrastruktur pemerintah.

Dalam pernyataan resminya, BSP mengakui pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi akibat lemahnya permintaan domestik. Namun bank sentral menilai indikator terbaru menunjukkan potensi pemulihan pada paruh kedua tahun ini.

Sinyal Kebijakan Masih Terbuka

Menariknya, BSP menghapus frasa bahwa “siklus pelonggaran kebijakan moneter mendekati akhir” yang sebelumnya muncul dalam pertemuan Desember. Perubahan bahasa ini memberi sinyal ruang kebijakan masih terbuka.

Remolona mengatakan pihaknya memperkirakan kepercayaan akan pulih dalam beberapa bulan mendatang. Jika proyeksi tersebut terwujud, bank sentral kemungkinan tidak perlu melanjutkan pemangkasan suku bunga.

Tekanan dari Skandal Korupsi

Guncangan ekonomi dipicu skandal korupsi bernilai miliaran dolar terkait proyek pengendalian banjir pemerintah. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir merosot ke sekitar 3% — laju paling lambat dalam 14 tahun terakhir di luar periode pandemi dan termasuk yang terlemah di Asia Tenggara.

Di sisi harga, BSP menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 3,6% dari sebelumnya 3,2%, terutama karena tekanan sisi penawaran yang dinilai sementara.

Inflasi Januari tercatat 2%, tertinggi dalam hampir setahun namun masih berada dalam target bank sentral sebesar 2%–4%. BSP memperkirakan kenaikan biaya minyak dan listrik akan mendorong inflasi pada paruh pertama sebelum kembali stabil.

“Dewan Moneter akan terus waspada dan dipandu oleh informasi terkini, khususnya data terkait inflasi,” demikian pernyataan BSP. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

OJK Gandeng 27 Asosiasi Profesi, Perkuat Tata Kelola Keuangan Hadapi Risiko Fraud dan AI

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng 27...

Cicilan Kendaraan Macet? Ini Cara Ajukan Restrukturisasi agar Tak Berujung Penarikan

DCNews, Jakarta — Angsuran kendaraan yang menunggak tidak selalu...

Pendanaan Pindar dari Perbankan Capai 75,59%, AFPI Ungkap Tren Kolaborasi

DCNews, Jakarta — Perbankan nasional semakin berperan dalam mendukung...

Vicky Shu Buka Suara soal Teror Pinjol, Foto KTP dan Gambar Tak Pantas Dikirim

DCNwes, Jakarta — Penyanyi Vicky Shu mengaku mendapat teror...