Trik Kejahatan Keuangan Kian Canggih, Visa Ungkap Ancaman Baru di Era Pembayaran Digital

Date:

DCNews, Jakarta — Dari tautan palsu yang menyamar sebagai merchant resmi, layanan pelanggan fiktif berbasis kecerdasan buatan, hingga skema investasi dan percintaan yang menguras emosi korban, berbagai trik kejahatan keuangan kini dirancang semakin halus dan sulit dibedakan dari aktivitas sah. Seiring percepatan digitalisasi layanan keuangan, para pelaku kejahatan juga berevolusi, memanfaatkan celah teknologi dan perilaku nasabah sebagai sasaran utama.

Fenomena tersebut tercermin dalam temuan Visa yang tertuang dalam Biannual Threats Report: Five Forces Reshaping Payment Security in 2025. Laporan itu menunjukkan bahwa kejahatan di sektor keuangan digital tidak hanya meningkat dari sisi volume, tetapi juga dari tingkat kecanggihan, dengan pemanfaatan teknologi mutakhir seperti otomatisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Head of Risk, Regional Southeast Asia Visa, Abdul Rahim, menuturkan bahwa pelaku industri keuangan di kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan wilayah lain.

“Di negara lain, pembayaran masih didominasi oleh kartu. Tapi di Asia Pasifik, ekosistemnya sangat terfragmentasi, dengan banyak metode pembayaran yang digunakan secara bersamaan,” kata Rahim, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Kondisi tersebut, lanjut dia, menuntut industri keuangan memiliki sistem deteksi yang lebih beragam dan adaptif. Setiap instrumen pembayaran membutuhkan protokol perlindungan yang berbeda, sehingga pendekatan tunggal tidak lagi memadai untuk menangkal potensi kejahatan.

Rahim mengungkapkan, jaringan kriminal keuangan saat ini beroperasi layaknya industri terorganisasi. Mereka memanfaatkan infrastruktur berskala besar, mulai dari botnet, skrip otomatis, hingga alat berbasis AI untuk melancarkan aksinya.

Dalam laporan dua tahunan Visa, disebutkan bahwa AI digunakan pelaku kejahatan untuk menciptakan berbagai artefak palsu, seperti situs merchant fiktif, identitas sintetis, agen layanan pelanggan palsu, hingga dokumen kepatuhan yang tampak autentik. Praktik ini membuat kejahatan semakin sulit dikenali, baik oleh konsumen maupun sistem pengamanan konvensional.

“Mitigasi kejahatan tradisional yang mengandalkan pemeriksaan visual atau manual akan semakin tidak efektif menghadapi pola serangan seperti ini,” ujar Rahim.

Bidik Aspek Psikologi Nasabah 

Tak hanya mengeksploitasi teknologi, para pelaku juga secara agresif membidik aspek psikologis nasabah. Penipuan berbasis percintaan (romance scam) dan investasi bodong menjadi contoh bagaimana emosi, rasa percaya, hingga keserakahan dimanfaatkan untuk menjebak korban.

“Para penipu pada dasarnya menyerang perilaku manusia. Karena itu, kolaborasi industri untuk terus mengedukasi pelanggan menjadi sangat penting, agar konsumen memahami spektrum ancaman baru yang mereka hadapi,” kata Rahim.

Menghadapi lanskap ancaman yang semakin kompleks, ia menegaskan bahwa peningkatan kapabilitas teknologi menjadi keniscayaan bagi industri keuangan. “Pada akhirnya, kita perlu melawan AI dengan AI,” ujarnya.

Rahim menambahkan, di Visa, kecerdasan buatan telah menjadi fondasi utama dalam strategi mitigasi penipuan. Model AI yang digunakan mampu menganalisis ratusan sinyal transaksi secara real-time untuk mengidentifikasi potensi penipuan dan membantu klien mencegah kerugian sejak dini.

“Pendekatan ini memungkinkan respons yang lebih cepat dan presisi, seiring kejahatan keuangan yang terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” pungkasnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pinjol Ilegal Mengancam Data Pribadi, Pemerintah Dorong Literasi Digital untuk Lindungi Masyarakat

DCNews, Purwokerto — Di tengah meningkatnya penetrasi layanan keuangan digital,...

Implementasi KUHP Baru, Habib Aboe Bakar Soroti Langkah Progresif Kejati Kalsel

DCNews, Banjarmasin – Di tengah fase transisi penerapan Kitab...

Respons AFPI atas Kasus Indosaku: PT TIN Diproses untuk Dikeluarkan

DCNews, Jakarta — Asosiasi industri fintech Indonesia bergerak cepat...

May Day di Monas, Prabowo Tekankan Peningkatan Kesejahteraan Buruh dan Perlindungan Kerja

DCNews, Jakarta — Ribuan buruh yang memadati kawasan Monumen...