OJK Optimistis Kredit Menguat Meski Undisbursed Loan Masih Tinggi

Date:

DCNews, Jakarta — Besarnya nilai kredit perbankan yang belum dicairkan atau undisbursed loan dinilai bukan sebagai tanda perlambatan, melainkan cerminan ruang ekspansi pembiayaan yang masih terbuka lebar bagi dunia usaha. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kondisi ini menunjukkan kuatnya komitmen perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi ke depan, seiring membaiknya prospek usaha dan stabilitas makroekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan peningkatan undisbursed loan dari Rp2.372 triliun pada Agustus 2025 menjadi Rp2.450 triliun per Oktober 2025 menandakan masih tersedianya plafon kredit yang dapat ditarik oleh debitur sesuai kebutuhan ekspansi.

“Pertumbuhan undisbursed loan yang tetap tinggi menunjukkan masih adanya kelonggaran tarik kredit di masa depan yang dapat dimanfaatkan oleh debitur untuk melakukan ekspansi usaha,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Ahad (21/12/2025).

Data terbaru Bank Indonesia (BI) memperkuat gambaran tersebut. Hingga November 2025, nilai undisbursed loan tercatat mencapai Rp2.509,4 triliun, setara dengan 23,18 persen dari total plafon kredit perbankan nasional.

Menurut Dian, besarnya komitmen kredit tersebut membuka peluang peningkatan realisasi penyaluran kredit pada periode mendatang, terutama apabila pemulihan ekonomi berlanjut dan kepercayaan pelaku usaha terus menguat. Kondisi ini dinilai berpotensi memberikan dorongan langsung bagi sektor riil.

Meski demikian, OJK memperkirakan pertumbuhan undisbursed loan akan mengalami moderasi seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan dan dinamika permintaan kredit. Namun, ruang pembiayaan produktif dinilai tetap memadai dengan catatan perbankan menjaga prinsip kehati-hatian.

“Dengan posisi ini, sektor perbankan nasional masih memiliki ruang untuk mendukung pembiayaan produktif, selama disertai pendekatan yang cermat terhadap risiko dan arah kebijakan ekonomi ke depan,” kata Dian.

OJK juga menilai pemulihan di sejumlah sektor ekonomi, ditopang kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif, berpotensi menciptakan efek ganda bagi konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha. Faktor pendorong pertumbuhan kredit antara lain membaiknya transmisi kebijakan moneter, tren penurunan suku bunga pinjaman, serta percepatan belanja pemerintah dan investasi swasta.

Sejumlah indikator makro menunjukkan sinyal positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2025 tercatat di level ekspansif 53,50, meningkat dari 51,20 pada Oktober 2025. Peningkatan ini mencerminkan penguatan aktivitas industri yang berpotensi meningkatkan permintaan pembiayaan perbankan.

Optimisme konsumen pun menguat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2025 berada di level 124,03, naik dari 121,22 pada Oktober dan tetap berada di zona optimistis.

“OJK secara aktif terus berkoordinasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan, termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), untuk memantau kondisi dan mengambil langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Dian. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

KPK Periksa Dua Pejabat BI dalam Kasus Dugaan Korupsi Dana CSR dan PSBI 2020–2023

DCNews, Jakarta — Upaya penegakan hukum terhadap dugaan penyimpangan dana...

BTN Dorong Akses Data SLIK Lebih Detail, Soroti Debitur dengan Puluhan Pinjaman Macet

DCNews, Jakarta - Di tengah upaya pemerintah memperluas akses...

Market Brief Hari Ini: Emas Tetap Kuat, Minyak Naik, Saham Teknologi Cetak Rekor Baru

DCNews, Jakarta – Pasar keuangan global hari ini (Kamis,...

Ancaman PHK Massal di Pulau Jawa Capai 9.000 Pekerja, Efek Domino Konflik Global dan Lesunya Industri

DCNews, Jakarta — Gelombang ketidakpastian ekonomi global mulai terasa...