DCNews, Jakarta — Rencana Bank Indonesia memanfaatkan jejak transaksi QRIS sebagai dasar penilaian kredit alternatif (alternative credit scoring) mulai mendapat respons dari pelaku industri fintech, yang menilai langkah ini berpotensi memperluas akses pembiayaan namun tetap menyimpan tantangan besar pada aspek perlindungan data dan akurasi penilaian.
PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) menjadi salah satu perusahaan yang menyambut positif gagasan tersebut. Chief Technology Officer (CTO) Samir, Andreas Panjaitan, mengatakan penggunaan data transaksi QRIS dapat memperkaya analisis risiko dalam industri pinjaman online (pinjol), terutama bagi segmen usaha mikro yang selama ini minim riwayat kredit formal.
“Ini langkah positif untuk meningkatkan kualitas credit scoring. Namun penerapannya harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” ujar.Andreas melalui keterangan tertulisnya, Ahad (30/11/2025).
Andreas menegaskan bahwa standar data, perlindungan privasi, serta kesiapan infrastruktur menjadi tiga pilar yang wajib dipastikan sebelum kebijakan ini diterapkan. Menurutnya, perusahaan fintech hanya dapat memanfaatkan sumber data baru bila regulasinya jelas dan konsumen memberikan izin secara transparan.
“Privasi dan keamanan data adalah batas utama yang tidak bisa dikompromikan. Data QRIS memang memberi gambaran tambahan aktivitas transaksi, tapi akurasinya berbeda-beda antar segmen. Karena itu tetap harus dikombinasikan dengan variabel lain agar penilaian tidak bias,” katanya.
Samir, lanjut Andreas, mengidentifikasi sejumlah tantangan teknis dalam penggunaan data QRIS untuk penilaian risiko. Mulai dari standardisasi data, variasi pola transaksi pengguna, hingga kepastian perlindungan data pribadi dalam proses integrasi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Samir menyiapkan pendekatan bertahap mulai dari integrasi sistem yang hati-hati, validasi model secara ketat, hingga memastikan seluruh proses patuh pada regulasi yang berlaku. “Prinsipnya adalah menjaga kualitas risiko tanpa mengorbankan perlindungan konsumen,” ujarnya.
Saat ini Samir menilai kelayakan peminjam (borrower) melalui kombinasi riwayat pembayaran, stabilitas pendapatan, pola penggunaan produk, serta indikator perilaku keuangan lainnya. Menurut Andreas, penggunaan data QRIS dapat menjadi pelengkap, bukan satu-satunya acuan.
Pemanfaatan Kecerdasan Imitasi
Dari sisi regulator, Bank Indonesia tengah mendorong pemanfaatan kecerdasan imitasi (artificial intelligence/AI) dalam mengolah jejak digital QRIS sebagai basis penilaian kredit alternatif bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM). Deputi Gubernur BI Juda Agung menjelaskan pemanfaatan AI akan membantu lembaga keuangan memperluas akses pembiayaan secara lebih inklusif.
“Jangan bayangkan AI seperti robot pengganti manusia. Bayangkan AI sebagai asisten yang sangat pintar dan memahami kebutuhan penggunanya,” kata Juda dalam acara FEKDI & IFSE 2025 di Jakarta, Sabtu kemarin (1/11/2025).
Ia menuturkan bahwa transaksi digital melalui QRIS menciptakan jejak yang cukup kaya untuk diolah menjadi indikator kelayakan kredit. Dengan pembelajaran mesin, kata Juda, data tersebut dapat menjadi dasar alternatif credit scoring yang lebih adaptif terhadap perilaku keuangan masyarakat.
Kebijakan baru ini diperkirakan menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat inklusi keuangan, namun pelaku industri menegaskan bahwa perlindungan data pribadi harus tetap menjadi elemen utama dalam proses implementasi. ***

