Soroti Dugaan Jual Beli Kursi dalam Proses SPMB, Jeni Suryanti: Khianati Semangat Kesetaraan Akses Pendidikan

Date:

DCNews, Jakarta — Ketua Umum Alumni SMA Jakarta Bersatu (ASJB), RA. Jeni Suryanti, angkat bicara terkait dugaan praktik jual beli kursi dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 yang saat ini tengah menuai sorotan publik. Dalam pernyataan resminya yang diterima media, Sabtu (14/6/205), Jeni menegaskan bahwa dugaan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan dan kesetaraan dalam dunia pendidikan.

Ia mendesak pemerintah daerah dan pihak sekolah untuk bertindak tegas dan transparan. “Kalau benar ada praktik jual beli kursi, ini bukan hanya mencoreng dunia pendidikan, tapi juga melukai kepercayaan masyarakat. Kami dari ASJB mengecam keras tindakan semacam ini,” ujar Jeni.

Menurutnya, sistem SPMB yang seharusnya memberikan kesempatan adil bagi seluruh calon peserta didik, justru menjadi ajang ketidakadilan yang dapat merugikan siswa berprestasi dan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Untuk itu ASJB, lanjut Jeni, menyerukan agar Ombudsman RI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut mengawasi jalannya proses SPMB tahun ini, untuk memastikan tidak ada celah penyalahgunaan wewenang atau pungutan liar.

“Kami ingin anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang bermutu tanpa harus terbebani oleh praktik-praktik kotor seperti ini. Pendidikan adalah hak, bukan barang dagangan!” tegasnya.

Masyarakat Jangan Diam

Terakhir, Jeni selaku Ketua Umum ASJB, mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan indikasi penyimpangan dalam proses penerimaan murid baru.

“Laporkan, jangan diam. Jangan biarkan sistem yang sudah rusak menjadi budaya,” pungkasnya.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ulhaq angkat bicara terkait adanya kasus dugaan jual beli kursi di SPMB 2025 di Jawa Barat. Fajar pun berharap hal-hal semacam itu tidak terjadi lagi pada pelaksanaan SPMB tahun-tahun berikutnya.

“Kita dengar ada satu kasus, itu Wali Kota lagi memproses dan melakukan pendalaman. Nah kita harapkan hal-hal semacam itu tidak terjadi,” kata Fajar di daerah Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2025) kemarin.

Sebelumnya diberitakan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dani Nurahman, mengatakan dugaan jual beli jatah kursi sekolah di Kota Bandung melibatkan sejumlah sekolah menengah pertama (SMP). “Ada empat (sekolah) SMP ya,” kata Dani di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa (10/6/2025).

Kasus dugaan pungutan liar (pungli) dengan modus jual beli kursi dalam tersebut terindikasi terjadi di empat SMP negeri, dengan nilai Rp 5 – 8 juta per kursi.

Polemik mengenai SPMB kerap muncul setiap tahun, terutama menyangkut zonasi, kuota afirmasi, dan jalur prestasi. Namun tuduhan praktik jual beli kursi kembali memantik kegelisahan, menyiratkan bahwa reformasi sistem pendidikan masih menghadapi tantangan serius di lapangan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Konflik Iran–Israel Memanas, Partai Gelora: Indonesia Harus Belajar dari Dinamika Geopolitik Timur Tengah

DCNews, Jakarta — Memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Israel,...

OJK Targetkan Persetujuan Aturan Free Float 15 Persen Rampung Maret 2026

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan persetujuan...

Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin: Robot dan AI Ambil Alih Banyak Peran Manusia

DCNews, Jakarta — Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...

Senator Graal Taliawo Kutuk Teror Aktivis KontraS, Desak Pengusutan Tuntas

DCNews,  Jakarta — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...