DCNews, Washington DC — Gelombang protes besar kembali menyapu berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. Ribuan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings”, menandai eskalasi ketidakpuasan publik terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin ekspansif dan kontroversial.
Di tengah meningkatnya ketegangan politik domestik dan kebijakan luar negeri yang memicu perdebatan, aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap arah kepemimpinan Gedung Putih. Mengutip laporan BBC, massa memprotes sejumlah isu krusial, mulai dari konflik di Iran, penegakan imigrasi federal, hingga tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Demonstrasi berlangsung serentak di kota-kota besar seperti New York, Washington DC, Los Angeles, Boston, Nashville, dan Houston, serta puluhan kota kecil lainnya. Di ibu kota, massa memadati kawasan Lincoln Memorial dan National Mall, menjadikannya pusat konsentrasi aksi.
Seperti pada demonstrasi sebelumnya, peserta aksi membawa berbagai simbol protes, termasuk boneka tiruan Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta pejabat pemerintah lainnya. Mereka menyerukan pencopotan dan penegakan hukum terhadap para pemimpin tersebut, dengan tudingan bahwa pemerintahan saat ini mendorong konsentrasi kekuasaan berlebihan.
Penyelenggara aksi menilai Trump tengah mengarah pada pola kepemimpinan otoriter. “Kekuasaan di negara ini milik rakyat, bukan calon raja dan kroni miliardernya,” demikian pernyataan kelompok tersebut. Gedung Putih merespons dengan nada sinis, menyebut demonstrasi itu sebagai “luapan emosi kelompok anti-Trump”.
Sorotan khusus tertuju pada negara bagian Minnesota, yang menjadi salah satu pusat aksi terbesar. Kemarahan publik dipicu insiden penembakan dua warga sipil oleh aparat imigrasi federal pada Januari lalu. Peristiwa itu memicu gelombang kritik terhadap kebijakan imigrasi pemerintah.
Ribuan demonstran berkumpul di Saint Paul, sementara sejumlah tokoh Partai Demokrat turut menyampaikan orasi di depan gedung capitol negara bagian.
Aksi di Minnesota juga diwarnai penampilan musisi legendaris Bruce Springsteen yang membawakan lagu “Streets of Minneapolis”, menambah dimensi kultural dalam gerakan protes tersebut.
Di New York, ribuan orang memadati kawasan Times Square dan melakukan long march di Midtown Manhattan. Aparat kepolisian menutup sejumlah ruas jalan untuk mengakomodasi massa. Aksi serupa sebelumnya pada Oktober lalu bahkan disebut berhasil mengumpulkan lebih dari 100.000 peserta di lima wilayah kota.
Meski sebagian besar berlangsung damai, aparat melaporkan sejumlah insiden. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyebut dua orang ditangkap di Los Angeles setelah diduga menyerang petugas federal. Dua aparat dilaporkan terluka akibat lemparan benda keras di sekitar Gedung Federal Roybal. Laporan Reuters juga mencatat penangkapan di Dallas menyusul bentrokan kecil dengan kelompok tandingan.
Gelombang protes turut meluas ke luar negeri. Warga Amerika di berbagai kota dunia seperti Paris, London, dan Lisbon menggelar aksi solidaritas serupa.
Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Trump memperluas penggunaan kewenangan presiden melalui serangkaian perintah eksekutif, merombak sejumlah lembaga federal, serta mengerahkan Garda Nasional ke beberapa kota—langkah yang menuai penolakan dari sejumlah gubernur negara bagian. Trump membantah tudingan otoritarianisme, namun para pengkritiknya menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar konstitusi dan mengancam fondasi demokrasi Amerika Serikat. ***

