DCNews, Jakarta — Dalam 50 hari pertama tahun ini, Indonesia telah diguncang ratusan bencana alam. Data resmi mencatat 394 kejadian sejak 1 Januari hingga 20 Februari 2026, dengan banjir sebagai peristiwa paling dominan. Angka itu memantik peringatan keras dari para pemerhati kebencanaan bahwa negeri ini sedang berada dalam periode rawan yang tak boleh dipandang sebagai rutinitas musiman semata.
Pemerhati gempa dan tsunami, Daryono, menilai lonjakan kejadian bencana tersebut harus dibaca sebagai sinyal peringatan dini bagi seluruh elemen masyarakat. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari total 394 peristiwa, sebanyak 199 di antaranya merupakan banjir.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah peringatan,” kata Daryono dalam keterangan yang dikutip Senin (23/2/2026).
Menurut dia, awal tahun bertepatan dengan puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan potensi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Kombinasi curah hujan tinggi, sistem drainase yang buruk, serta alih fungsi lahan memperbesar risiko kerusakan infrastruktur dan ancaman terhadap keselamatan warga.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa risiko bukan berarti tak bisa dikelola. “Kita tidak bisa menghentikan hujan, tetapi kita bisa mengurangi risikonya,” ujarnya.
Ia mendorong langkah mitigasi sederhana yang bisa dilakukan masyarakat, mulai dari membersihkan saluran air di lingkungan sekitar hingga tidak membuang sampah ke sungai yang memperparah luapan air saat hujan deras.
Selain itu, ia mengimbau warga menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, makanan ringan, serta power bank untuk kondisi darurat. Mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul terdekat juga dinilai krusial untuk mempercepat penyelamatan ketika bencana terjadi.
Daryono turut mengingatkan pentingnya memantau informasi resmi dari otoritas kebencanaan agar masyarakat tidak terjebak pada kabar yang belum terverifikasi. Dalam situasi darurat, informasi akurat menjadi kunci pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan bukanlah bentuk ketakutan, melainkan cerminan kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekitar.
“Kesiapsiagaan bukan tentang rasa takut. Kesiapsiagaan adalah bentuk kepedulian,” ujarnya.
Menurutnya, meski bencana tidak selalu dapat dicegah, dampaknya dapat ditekan jika masyarakat membangun budaya sadar bencana secara konsisten.
“Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikurangi jika kita siap. Mari tingkatkan budaya sadar bencana, mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri,” katanya. ***

