DCNews, Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada perdagangan Sabtu (20/12/2025), mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian pasar global. Berdasarkan data laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam naik Rp8.000 menjadi Rp2.491.000 per gram, dari posisi sebelumnya Rp2.483.000 per gram.
Sejalan dengan kenaikan harga jual, harga buyback atau harga jual kembali emas batangan juga mengalami penguatan sebesar Rp8.000 menjadi Rp2.350.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.342.000 per gram. Kenaikan ini memberikan peluang bagi investor yang ingin merealisasikan keuntungan jangka pendek.
Dalam setiap transaksi, harga jual emas dikenakan ketentuan pajak sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017 yang berlaku untuk seluruh jenis emas batangan dengan gramasi mulai dari 1 gram hingga 1 kilogram.
Untuk transaksi penjualan kembali (buyback) emas batangan kepada PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan 3 persen bagi non-NPWP. Pajak tersebut dipotong langsung dari total nilai buyback yang diterima penjual.
Adapun harga emas batangan Antam per Sabtu tercatat sebagai berikut:
- 0,5 gram: Rp1.295.500
- 1 gram: Rp2.491.000
- 2 gram: Rp4.922.000
- 3 gram: Rp7.358.000
- 5 gram: Rp12.230.000
- 10 gram: Rp24.405.000
- 25 gram: Rp60.887.000
- 50 gram: Rp121.695.000
- 100 gram: Rp243.312.000
- 250 gram: Rp608.015.000
- 500 gram: Rp1.215.820.000
- 1.000 gram: Rp2.431.600.000
Sementara itu, untuk pembelian emas batangan, investor dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non-NPWP. Setiap transaksi pembelian disertai dengan bukti pemotongan PPh 22 sesuai ketentuan yang berlaku.
Analisis Pasar
Penguatan harga emas Antam mencerminkan tren global harga emas yang tetap solid di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global. Ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral utama, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta tensi geopolitik yang belum mereda mendorong investor domestik untuk mempertahankan emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
Di sisi lain, stabilnya harga buyback menunjukkan likuiditas pasar emas ritel masih terjaga, sehingga emas tetap menarik baik sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang maupun sarana pengelolaan aset di tengah volatilitas pasar keuangan. Dalam jangka menengah, pergerakan harga emas domestik diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh dinamika harga emas dunia serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. ***

