DCNews, Jakarta — Tragedi runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pekan lalu, menyisakan duka mendalam di tengah masyarakat. Bangunan utama pesantren itu ambruk saat para santri tengah melaksanakan shalat, menewaskan puluhan orang dan memunculkan pertanyaan besar, “bagaimana bangunan sebesar itu bisa roboh seketika?”
Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang ditemui awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (6/20/2025) mengakui bahwa ada unsur kelalaian dalam proses pembangunan pesantren tersebut. Ia menyebut, struktur bangunan diduga tidak memenuhi standar yang semestinya.
“Kalau kita bertanya apakah ini ada kesalahan, kelalaian, tentu iya. Dapat dipastikan struktur bangunannya kurang memadai,” ujar Marwan.
Namun, ia menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya terletak di pihak pengelola pesantren. Menurutnya, pemerintah daerah dan lembaga terkait juga lalai karena tidak melakukan pengawasan yang memadai terhadap proses pembangunan.
“Kelalaian ini tidak hanya di pihak pesantren. Ada otoritas yang seharusnya memastikan bangunan itu aman dan berizin. Tapi faktanya, banyak pesantren membangun sendiri tanpa panduan dan tanpa diawasi,” katanya lagi.
Marwan juga menyoroti rumitnya proses pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk lembaga keagamaan. Ia menduga, sulitnya mendapatkan izin membuat pihak pesantren akhirnya membangun secara mandiri tanpa standar keselamatan yang cukup.
“Mungkin mereka merasa sulit mendapatkan izin, jadi dikerjakan sendiri. Kalau diusut, pesantren salah, tapi pemerintah juga salah karena tidak mengawasi. Bahkan kami di Komisi VIII pun harus introspeksi,” tambahnya.
Peristiwa ini, lanjut Marwan, harus menjadi pelajaran berharga agar tragedi serupa tidak terulang. Ia mendesak pemerintah memperbaiki sistem pengawasan pembangunan fasilitas pendidikan berbasis keagamaan serta mempermudah proses perizinan bagi lembaga pesantren.
Evakuasi Masih Berlangsung
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan proses evakuasi masih berlangsung dan ditargetkan rampung hari ini, Senin (6/10/2025). Hingga kini, pembersihan puing telah mencapai sekitar 75 persen.
Data sementara mencatat 54 korban meninggal dunia, sementara 13 orang masih dalam pencarian.
Tragedi Ponpes Al Khoziny menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat untuk memastikan setiap tempat pendidikan —termasuk pesantren— dibangun dengan standar keselamatan yang layak, agar tempat belajar tak berubah menjadi ladang bencana. ***

