Pinjaman Online Berbunga hingga 450 Persen di Vietnam Terbongkar, Polisi Tangkap Eks Narapidana

Date:

DCNews, Vietnam — Tawaran pinjaman cepat melalui media sosial yang terlihat sederhana dan mudah diakses ternyata menjadi pintu masuk praktik rentenir dengan bunga ekstrem. Di Da Nang, Vietnam, polisi menangkap Nguyen Hai Dang setelah penyelidikan mengungkap lebih dari 300 transaksi pinjaman kepada sedikitnya 50 orang dengan nilai keseluruhan melampaui 1 miliar dong Vietnam.

Kepolisian Kota Da Nang pada 28 September 2026 memulai penyelidikan pidana dan menahan sementara Dang, warga Kelurahan Tuong Mai, Hanoi, atas dugaan tindak pidana pemberian pinjaman dengan bunga tinggi dalam transaksi perdata.

Menurut penyelidikan kepolisian, keuntungan ilegal yang diperoleh Dang mencapai lebih dari 300 juta dong. Aktivitas tersebut berlangsung sejak September 2025 dan menyasar peminjam di Da Nang.

Kasus itu memperlihatkan bagaimana praktik tín dụng đen atau kredit gelap di Vietnam mulai mengandalkan pola pemasaran digital. Alih-alih menawarkan pinjaman secara langsung dari rumah ke rumah, pelaku menggunakan iklan media sosial untuk menjangkau orang yang membutuhkan uang dalam waktu singkat.

Iklan “pembiayaan fleksibel” dan bunga lebih dari 450 persen

Dang diduga memanfaatkan sejumlah akun atau layanan iklan dengan menawarkan pesan seperti “Solusi keuangan di wilayah Da Nang” dan “Keuangan fleksibel 24/7”.

Calon peminjam yang merespons iklan kemudian diarahkan ke komunikasi pribadi. Dari proses tersebut, pelaku mengumpulkan nomor telepon dan menawarkan berbagai pilihan pinjaman.

Menurut hasil penyelidikan, jumlah pinjaman yang ditawarkan berkisar 5 juta hingga 200 juta dong. Namun, biaya yang harus ditanggung peminjam jauh lebih besar dibandingkan kesan sederhana yang dibangun melalui iklan.

Peminjam diwajibkan melunasi pinjaman melalui cicilan selama 26 hari dengan bunga mencapai 30 persen dalam satu siklus. Jika disetahunkan berdasarkan perhitungan yang disampaikan penyidik, tingkat bunga efektifnya dapat melampaui 450 persen per tahun.

Sebelum uang diberikan, Dang juga diduga memotong pembayaran untuk dua hari pertama serta mengenakan biaya tambahan sebesar 5-10 persen dari nilai pinjaman.

Pola tersebut membuat jumlah uang yang benar-benar diterima peminjam berbeda dari nilai pinjaman yang tercatat, sementara kewajiban pembayaran tetap berjalan setiap hari.

Peminjam dipantau, penagihan dilakukan setiap hari

Untuk mengendalikan transaksi, Dang disebut mendatangi rumah, tempat kerja, atau lokasi usaha peminjam ketika menyerahkan uang. Peminjam juga diminta merekam video sebagai bukti penerimaan dana.

Bagi pemilik usaha, pelaku meminta dokumen pendaftaran usaha dan video lokasi bisnis sebelum pencairan dilakukan melalui rekening bank.

Setelah pinjaman diberikan, penagihan dilakukan setiap hari. Jika tidak dapat bertemu langsung dengan peminjam, pembayaran cicilan dan bunga diminta melalui transfer rekening.

Tekanan meningkat ketika peminjam terlambat membayar. Menurut penyelidikan, penagihan dilakukan melalui panggilan telepon berulang, ancaman menyebarkan foto pribadi atau informasi sensitif di media sosial, hingga mendatangi rumah atau tempat usaha peminjam untuk menuntut pembayaran.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa risiko pinjaman predator tidak berhenti pada bunga yang tinggi. Data pribadi dan tekanan sosial juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk memaksa peminjam memenuhi kewajibannya.

Bukan Kali Pertama Terlibat Kasus Rentenir

Kasus Dang juga memiliki riwayat hukum. Ia sebelumnya pernah dihukum 18 bulan penjara pada 2022 oleh Pengadilan Rakyat Distrik Ngu Hanh Son atas tindak pidana serupa.

Setelah menyelesaikan masa hukumannya pada akhir 2022, Dang kembali ke Da Nang pada September 2025. Ia tinggal di kawasan Quang Hau, Kelurahan Dien Ban Dong, tetapi menurut penyelidikan tidak mendaftarkan tempat tinggalnya sesuai ketentuan.

Di lokasi tersebut, ia diduga kembali menjalankan kegiatan pemberian pinjaman secara tersembunyi.

Penyelidikan bermula dari informasi intelijen mengenai sejumlah orang dari luar provinsi yang diduga menjalankan praktik rentenir dengan berpindah-pindah wilayah. Polisi kemudian menelusuri aktivitas Dang hingga akhirnya memanggilnya untuk dimintai keterangan pada 22 September.

Setelah diperhadapkan dengan dokumen dan bukti yang dikumpulkan penyidik, Dang disebut mengakui perbuatannya.

Kebutuhan uang cepat dapat berubah menjadi perangkap utang

Kasus di Da Nang menjadi pengingat bahwa digitalisasi layanan keuangan juga dapat dimanfaatkan oleh pemberi pinjaman ilegal untuk menemukan calon korban dengan lebih cepat.

Iklan yang menawarkan “pencairan cepat”, “bantuan keuangan”, “tanpa jaminan” atau layanan selama 24 jam dapat terlihat menarik bagi orang yang sedang menghadapi kebutuhan mendesak. Namun, di balik proses yang sederhana, terdapat risiko bunga tinggi, biaya tersembunyi, serta penagihan yang dapat berubah menjadi intimidasi.

Masyarakat yang membutuhkan pinjaman disarankan menggunakan lembaga keuangan yang memiliki legalitas jelas dan memeriksa secara rinci tingkat bunga, biaya, tenor, serta seluruh ketentuan sebelum menerima pinjaman.

Dokumen identitas, informasi rekening bank, foto pribadi, maupun data sensitif lainnya juga sebaiknya tidak diberikan kepada akun atau pihak yang asal-usul dan legalitasnya tidak dapat diverifikasi.

Jika menemukan dugaan praktik pinjaman berbunga sangat tinggi, ancaman, pemaksaan, atau penagihan yang melanggar hukum, masyarakat perlu menyimpan bukti seperti pesan, nomor telepon, rekening penerima dana, rekaman komunikasi, serta dokumen transaksi untuk disampaikan kepada aparat penegak hukum.

Di tengah kemudahan pinjaman berbasis digital, persoalannya bukan hanya seberapa cepat uang dapat diterima. Bagi peminjam, ketentuan setelah uang masuk ke rekening justru dapat menentukan apakah pinjaman menjadi solusi sementara atau berkembang menjadi jeratan utang yang sulit dihentikan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Penarikan Mobil Berujung Laporan Polisi, Perempuan di Kotamobagu Mengaku Dianiaya Debt Collector

DCNews, Kotamobagu — Upaya penarikan kendaraan yang disebut melibatkan...

Habib Aboe: Desainer Masa Depan Harus Mahir Manfaatkan AI

DCNews, Jakarta — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai...

DJP Bidik Ribuan Platform Asing lewat Sistem Pajak Transaksi Digital Luar Negeri

DCNews, Jakarta — Pemerintah memperluas jangkauan pemungutan pajak atas...

OJK Bubarkan Dana Pensiun BASF Indonesia, Likuidator Ditunjuk

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membubarkan Dana...