DCNews, Jakarta — Pasar keuangan global pada Sabtu (28/3/2026) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menghindari risiko (risk-off), ditandai penguatan harga emas dan minyak dunia, serta tekanan pada indeks saham teknologi Amerika Serikat. Kondisi ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran inflasi yang kembali menguat.
Emas (gold) menjadi salah satu aset yang paling diburu investor. Harga logam mulia tersebut bergerak naik mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian. Meski demikian, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi masih menjadi faktor penahan laju kenaikan emas dalam jangka pendek.
Di pasar energi, harga minyak (oil) melonjak tajam. Kenaikan ini didorong kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Lonjakan harga minyak tidak hanya memicu tekanan inflasi, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Sementara itu, pasangan mata uang EUR/USD melemah seiring dominasi dolar AS. Tekanan terhadap euro muncul akibat kombinasi penguatan dolar dan data ekonomi Eropa yang belum menunjukkan pemulihan signifikan. Pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral utama.
Pergerakan GBP/USD cenderung volatil. Poundsterling sempat menguat, namun tetap rentan terkoreksi seiring ketidakpastian arah dolar AS. Sentimen pasar terhadap mata uang Inggris dipengaruhi ekspektasi suku bunga serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Di Asia, USD/JPY menunjukkan penguatan dolar terhadap yen Jepang. Perbedaan kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang menjadi faktor utama yang mendorong pergerakan ini, di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset aman.
Dari pasar saham, indeks Nasdaq mengalami tekanan signifikan. Saham-saham teknologi terkoreksi seiring kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi. Investor cenderung melakukan aksi ambil untung dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih defensif.
Analisis Dahlan Konsultan:
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan, menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan fase ketidakpastian yang cukup dalam akibat kombinasi risiko geopolitik dan tekanan inflasi global.
Menurut pria yang akrab disapa Kang Dahlan itu, lonjakan harga minyak menjadi faktor krusial yang dapat memperpanjang tekanan inflasi dan mempersempit ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. “Selama harga energi masih tinggi, ekspektasi pelonggaran moneter akan tertahan, dan ini cenderung menekan pasar saham, khususnya sektor teknologi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan emas dan dolar AS mencerminkan pergeseran preferensi investor ke aset aman. Dalam jangka pendek, tren ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga terdapat kepastian terkait stabilitas geopolitik dan arah kebijakan global.
Kang Dahlan merekomendasikan investor untuk lebih selektif, dengan menyeimbangkan portofolio antara aset defensif seperti emas dan instrumen berisiko secara terukur, guna mengantisipasi volatilitas pasar yang masih tinggi dalam beberapa waktu ke depan. ***

