Lonjakan Harga Minyak Global, Pasca Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Irn

Date:

DCNews, Jakarta — Pasar minyak global berada di ambang gejolak besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran pada Minggu dini hari, memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah yang selama ini sudah rapuh. Langkah agresif ini mendorong kekhawatiran akan terganggunya stabilitas energi dunia, terutama karena kawasan tersebut menyuplai hampir sepertiga dari total pasokan minyak global.

Harga minyak mentah jenis Brent telah melonjak 11% sejak Israel melancarkan serangan terhadap Iran beberapa hari sebelumnya. Serangan terbaru AS—yang menghantam situs nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan—diprediksi akan memperpanjang tren kenaikan harga dan meningkatkan volatilitas pasar dalam beberapa hari ke depan.

“Respons Iran dalam waktu dekat akan sangat menentukan arah pasar. Jika Iran membalas, harga bisa melonjak menuju US$100 per barel,” ujar Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee, sebagaimana dikutip DCNews, Minggu (22/6/2025).

Analis memperingatkan bahwa serangan ini membuka peluang eskalasi lebih luas, termasuk potensi serangan balasan Iran terhadap infrastruktur minyak di Irak, atau bahkan gangguan di jalur strategis Selat Hormuz—pintu keluar masuk 20% ekspor minyak global setiap harinya.

Trump: “Fasilitas Nuklir Iran Dihancurkan Total”

Beberapa jam setelah serangan, Presiden Trump menyampaikan pidato dari Gedung Putih, mengklaim bahwa ketiga fasilitas nuklir tersebut “telah dihancurkan total” dan memperingatkan Iran untuk “segera berdamai dengan Israel” atau menghadapi gelombang serangan berikutnya.

Dukungan militer AS terhadap Israel dalam konflik ini menguatkan anggapan bahwa Washington kini terlibat langsung dalam krisis Timur Tengah. Kebijakan Trump terhadap Iran kembali menjadi sorotan tajam, apalagi sebelumnya ia sempat menyatakan akan menunda intervensi lebih lanjut selama dua pekan.

Risiko Global: dari Jalur Pelayaran hingga Resesi

Harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel jika ketegangan terus berlanjut. Armada Laut AS bahkan disebut tengah bersiap mengamankan Selat Hormuz dari potensi gangguan.

“Jika pasokan terganggu, bukan tidak mungkin harga akan melesat lebih tinggi,” ujar Joe DeLaura, analis energi senior dan mantan trader di Rabobank.

Kenaikan harga minyak bisa berdampak langsung pada inflasi global, harga bahan bakar, dan bahkan mendorong beberapa negara ke ambang resesi. Biaya pengapalan dari Timur Tengah ke China naik hampir 90% dalam dua pekan terakhir, dengan premi asuransi dan tarif sewa kapal melonjak tajam.

Sementara itu, insiden tabrakan dua kapal tanker di perairan Teluk Persia memperkuat kekhawatiran soal keselamatan maritim, terlebih setelah hampir 1.000 kapal dilaporkan mengalami gangguan sinyal GPS setiap harinya.

Pasar Derivatif Bergolak, Trader Bayar Premi Tinggi

Volatilitas juga tercermin dalam pasar derivatif. Volume opsi beli (call options) minyak mencetak rekor tertinggi sejak 2013. Trader membayar premi tinggi untuk melindungi posisi mereka dari potensi lonjakan harga lebih lanjut.

Sejak 12 Juni —sehari sebelum serangan Israel— kontrak minyak berjangka turun 367 juta barel atau 7%, mencerminkan tekanan volatilitas dan ketidakpastian pasar.

“Pergerakan liar saat ini adalah sinyal para spekulan sedang melakukan lindung nilai secara agresif,” kata Ryan Fitzmaurice dari Marex Group.

Ancaman, Tapi Juga Peluang Koreksi

Meski ketegangan tinggi, beberapa pelaku pasar menilai bahwa ancaman konflik belum sepenuhnya bertransformasi menjadi gangguan pasokan riil. Ini membuat harga minyak belum benar-benar melejit ke level tertinggi.

“Pasar masih menunggu kepastian dari Iran. Jika terjadi deeskalasi, koreksi harga bisa terjadi dengan cepat,” ujar John Kilduff, partner di Again Capital.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pasar bisa pulih cepat. Pada 2019, serangan drone ke fasilitas minyak Abqaiq di Arab Saudi memotong 7% pasokan global, namun harga kembali stabil hanya dalam beberapa minggu.

Namun, jika Iran benar-benar membalas, atau jika AS melanjutkan operasi militer lebih luas, skenario tersebut bisa berubah drastis —mengguncang pasar energi dan rantai pasokan global dalam skala besar. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Konflik Iran–Israel Memanas, Partai Gelora: Indonesia Harus Belajar dari Dinamika Geopolitik Timur Tengah

DCNews, Jakarta — Memanasnya konflik yang melibatkan Iran, Israel,...

OJK Targetkan Persetujuan Aturan Free Float 15 Persen Rampung Maret 2026

DCNews, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan persetujuan...

Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin: Robot dan AI Ambil Alih Banyak Peran Manusia

DCNews, Jakarta — Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...

Senator Graal Taliawo Kutuk Teror Aktivis KontraS, Desak Pengusutan Tuntas

DCNews,  Jakarta — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI...