DCNews, Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat melakukan serangkaian panggilan telepon kepada para pemimpin Kamboja dan Thailand dalam upaya meredakan eskalasi ketegangan bersenjata di perbatasan kedua negara Asia Tenggara tersebut. Langkah diplomatik itu dilakukan setelah bentrokan mematikan di wilayah perbatasan memicu kekhawatiran runtuhnya perdamaian yang selama ini rapuh.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa Trump juga berkoordinasi dengan Malaysia untuk membantu menghentikan kekerasan dan memulihkan stabilitas regional. Meski tidak merinci siapa lawan bicara Trump, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengonfirmasi bahwa ia berbicara langsung dengan Presiden AS itu.
Anwar mengatakan bahwa ia menyampaikan perkembangan terbaru mengenai penarikan pasukan Thailand dan Kamboja dari zona perbatasan, sesuai mekanisme yang diatur dalam Kerangka Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur. “Saya menyambut peran aktif Presiden Trump, yang juga menghubungi Perdana Menteri Kamboja dan Thailand untuk memastikan setiap perbedaan ditangani secara tertib demi menjaga stabilitas dan harmoni kawasan,” ujarnya di platform X, yang dikutip DCNews, Sabtu (15/11/2025).
Ketegangan meningkat tajam setelah bentrokan pada Rabu yang menewaskan seorang warga sipil dan melukai tiga lainnya di perbatasan Thailand–Kamboja. Insiden itu terjadi hanya beberapa hari setelah Thailand menangguhkan pakta perdamaian yang selama ini menjadi instrumen penting meredakan konflik di perbatasan.
Kamboja merespons dengan mengevakuasi ratusan warga dari desa Prey Chan, menurut juru bicara provinsi Norng Vuthy yang berbicara kepada media lokal CamboJA News pada Kamis. Sementara itu, militer Thailand membantah tuduhan bahwa tentaranya melepaskan tembakan lebih dulu. Mereka menegaskan bahwa pasukan Kamboja yang memicu insiden dengan menembakkan senjata ke wilayah Thailand.
Pasukan Thailand, lanjut pernyataan militer, “berlindung dan membalas tembakan ke arah sumber hanya dengan menggunakan kekuatan yang diperlukan sesuai aturan keterlibatan untuk meredam insiden, melindungi kedaulatan nasional, dan memastikan keselamatan personel.”
Upaya diplomatik Trump bersama Malaysia menandai salah satu intervensi langsung Washington paling signifikan dalam konflik perbatasan di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir, sementara kawasan menanti apakah langkah tersebut mampu menghentikan spiral kekerasan yang kembali mengancam stabilitas regional. ***

