DCNews, Tangerang — Kemudahan mendapatkan pinjaman secara instan membuat layanan pinjaman online (pinjol) menjadi salah satu pilihan ketika anak muda membutuhkan uang dalam waktu singkat. Namun, di tengah maraknya entitas keuangan ilegal, keputusan meminjam tanpa memeriksa legalitas dan kemampuan membayar dapat berubah menjadi persoalan yang lebih besar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat telah menerima 38.438 pengaduan terkait entitas keuangan ilegal sepanjang 2026 hingga 30 September. Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman aktivitas keuangan ilegal masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat, termasuk generasi muda yang semakin akrab dengan layanan keuangan digital.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK) OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan pengaduan tersebut merupakan bagian dari upaya OJK menangani aktivitas keuangan ilegal dan penipuan.
“Dalam upaya pemberantasan kegiatan keuangan ilegal dan penanganan penipuan, secara year to date hingga 30 September 2026 OJK telah menerima 38.438 pengaduan terkait entitas ilegal,” kata Dicky dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan September OJK, Senin (5/10/2026).
Pada periode yang sama, OJK bersama Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menemukan dan menghentikan 951 entitas pinjol ilegal, 242 entitas investasi ilegal, 27 entitas gadai ilegal, serta dua aktivitas keuangan ilegal lainnya yang beroperasi melalui sejumlah situs dan aplikasi.
Bagi sebagian anak muda, pinjol menawarkan solusi yang terlihat sederhana ketika kebutuhan mendesak muncul sementara dana darurat menipis. Proses pengajuan yang dilakukan melalui aplikasi dan pencairan dana yang relatif cepat membuat layanan tersebut mudah menarik perhatian.
Namun, kemudahan itu juga membawa risiko apabila masyarakat tidak memahami biaya pinjaman, kewajiban pembayaran, serta legalitas penyelenggara. Terlebih, promosi layanan keuangan digital kini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform yang sehari-hari digunakan generasi muda.
Karena itu, kebutuhan dana mendadak tidak selalu harus dijawab dengan mengambil pinjaman. Ada sejumlah alternatif yang dapat dipertimbangkan, terutama bagi mereka yang memiliki aset atau keahlian yang dapat menghasilkan uang.
Sewakan Aset yang Jarang Digunakan
Aset pribadi yang jarang digunakan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pemasukan tanpa harus menjualnya.
Mengutip Pegadaian, sejumlah aset yang berpotensi disewakan antara lain kamar kosong, mobil, sepeda motor, hingga barang elektronik. Pemilik aset dapat menentukan tarif sewa, meminta pembayaran di muka, serta membuat kesepakatan mengenai tanggung jawab apabila barang mengalami kerusakan.
Cara tersebut memungkinkan pemilik memperoleh dana dari aset yang sebelumnya tidak produktif sekaligus tetap mempertahankan kepemilikannya.
Tawarkan Jasa Sesuai Keahlian
Keahlian yang dimiliki juga dapat menjadi sumber pemasukan ketika membutuhkan uang tambahan.
Pekerjaan lepas atau freelance kini tersedia untuk berbagai bidang, mulai dari desain grafis, penulisan, penerjemahan, penyuntingan video, pengajaran secara daring hingga pengelolaan media sosial.
Bagi Gen Z yang memiliki keterampilan digital, pekerjaan freelance dapat menjadi alternatif untuk memperoleh penghasilan tanpa harus mengambil utang. Namun, pekerjaan tetap perlu dipilih secara hati-hati, terutama untuk menghindari penipuan berkedok proyek atau pekerjaan daring.
Jaminkan Aset melalui Lembaga Resmi
Jika kebutuhan dana lebih besar dan tidak dapat dipenuhi melalui penyewaan aset atau pekerjaan lepas, menjaminkan aset melalui lembaga resmi dapat menjadi pilihan.
Melalui skema gadai, pemilik aset memperoleh dana dengan menjadikan aset tertentu sebagai jaminan. Kepemilikan aset tidak serta-merta berpindah selama kewajiban sesuai perjanjian dipenuhi.
Setelah pinjaman dilunasi sesuai ketentuan, aset dapat kembali kepada pemiliknya. Karena itu, sebelum menggadaikan aset, calon nasabah tetap perlu menghitung kemampuan pembayaran dan memahami seluruh biaya serta ketentuan yang berlaku.
Pada akhirnya, kebutuhan uang mendadak tidak harus selalu berujung pada utang. Bagi Gen Z, pilihan untuk memanfaatkan aset dan keahlian sendiri dapat menjadi langkah yang lebih terukur sebelum mengambil pinjaman, terutama ketika kondisi keuangan belum cukup kuat untuk menanggung cicilan baru. ***

