DCNews, Jakarta — Pinjaman daring (Pindar) mulai mengambil peran yang berbeda di tengah kebutuhan pembiayaan masyarakat. Jika sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan modal usaha, kini pembiayaan Pindar juga digunakan untuk menopang kebutuhan konsumsi sehari-hari rumah tangga.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar mengatakan perubahan pola penggunaan tersebut mencerminkan masih adanya kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan pembiayaan dari lembaga keuangan formal.
“Penggunaan pindar untuk kebutuhan harian justru menunjukkan peran pindar sebagai bantalan ekonomi untuk menyangga konsumsi rumah tangga,” kata Entjik di Jakarta, dikutip Kamis (24/9/2026).
Menurut Entjik, pembiayaan Pindar kini tidak hanya menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kebutuhan pembiayaan individu untuk konsumsi juga menjadi bagian dari fungsi industri dalam memperluas akses layanan keuangan.
Perubahan tersebut, kata dia, tidak terlepas dari masih besarnya kebutuhan pendanaan masyarakat yang belum seluruhnya dapat dipenuhi industri keuangan formal. AFPI memperkirakan terdapat kesenjangan kredit di Indonesia yang mencapai Rp1.650 triliun.
“Ini sesuai dengan visi industri untuk memperluas inklusi dengan menyediakan akses keuangan bagi kelompok underserved,” ujarnya.
Kebutuhan pembiayaan juga dapat meningkat ketika rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi, termasuk penurunan daya beli dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam kondisi tersebut, Pindar menjadi salah satu kanal yang digunakan masyarakat ketika membutuhkan pembiayaan dengan akses yang relatif mudah.
Untuk mengantisipasi risiko penyaluran sekaligus memperluas akses pembiayaan, industri Pindar memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan alternative credit scoring. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu menilai kelayakan dan profil risiko calon penerima pembiayaan sehingga penyaluran dapat lebih sesuai dengan karakteristik konsumen. ***

