DCNews, Jakarta — Riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB-UI) menemukan bahwa layanan pinjaman daring tidak semata digunakan untuk konsumsi, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai sumber permodalan usaha. Penelitian tersebut mencatat sebanyak 26,7 persen pengguna layanan pinjaman daring AdaKami menggunakan dana pinjaman untuk membiayai dan mengembangkan usaha mereka.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa akses pembiayaan berbasis teknologi finansial semakin memainkan peran dalam memperluas akses modal bagi pelaku usaha kecil dan menengah, terutama bagi mereka yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sistem perbankan konvensional.
Peneliti LPEM FEB-UI, Prani Sastiono, menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dianalisis, sebagian peminjam memanfaatkan dana dari platform pindar untuk membangun maupun mengembangkan usaha. Skema pembiayaan ini dinilai membantu pelaku UMKM mengakses pembelian formal yang dapat meningkatkan kapasitas usaha.
“Sebagian pengguna memanfaatkan pinjaman tersebut untuk meningkatkan kegiatan usaha, mulai dari menambah modal kerja hingga memperluas aktivitas bisnis,” ujar Prani dalam pemaparannya, Jumat (13/3/2026).
Riset tersebut juga mencatat bahwa sekitar 20 persen pinjaman yang diajukan oleh pengguna platform AdaKami memiliki nilai di atas Rp5 juta. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pinjaman yang bersifat konsumtif, yang umumnya berada pada kisaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta.
Pada kesempatan yang sama, Deputi Direktur Direktorat Pengawasan Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi di Otoritas Jasa Keuangan, Anjar Sumarjati, menyatakan bahwa industri pinjaman daring saat ini telah memberikan kontribusi signifikan dalam membantu kebutuhan pembiayaan masyarakat, termasuk dalam menjembatani kebutuhan kredit UMKM yang belum terpenuhi oleh sektor perbankan.
Menurut Anjar, Indonesia masih menghadapi kesenjangan pembiayaan atau credit gap yang besar di sektor UMKM.
“Terdapat potensi sekitar Rp2.400 triliun credit gap yang masih perlu dipenuhi. Kami berharap industri pindar dapat menjadi akselerator dalam mendukung terpenuhinya kebutuhan pendanaan UMKM tersebut,” kata Anjar.
Prani menambahkan bahwa akses terhadap pinjaman tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Dana yang diperoleh pelaku usaha, misalnya, digunakan untuk menambah stok barang, meningkatkan kapasitas produksi, hingga membuka cabang usaha baru.
“Memang tidak semua usaha mengalami peningkatan skala, tetapi ada juga yang berkembang setelah mendapatkan pinjaman. Dengan adanya modal, pelaku usaha bisa memulai bisnis baru, membeli mesin produksi, meningkatkan omzet, hingga menciptakan lapangan kerja baru,” jelasnya.
Temuan riset ini menunjukkan bahwa pemanfaatan pinjaman daring secara produktif berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan UMKM sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional. ***

