DCNews, Paser— Ruang belajar para santri di Pondok Pesantren Al-Ihsan, Desa Senaken, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama. Pada Jumat (25/9/2026), masjid di lingkungan pesantren itu menjadi ruang edukasi tentang ancaman yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda: narkotika, judi online, pinjaman online ilegal, penipuan digital hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan.
Ratusan santri dan santriwati mengikuti penyuluhan yang digelar jajaran kepolisian sebagai bagian dari upaya pencegahan terhadap berbagai risiko sosial dan kejahatan di tengah perkembangan teknologi digital.
Kegiatan tersebut melibatkan tim gabungan Subdit Bintibsos Ditbinmas Polda Kalimantan Timur bersama Sat Binmas Polres Paser. Para personel kepolisian memberikan pemahaman kepada santri agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan yang dapat menyasar mereka melalui lingkungan pergaulan maupun ruang digital.
Kasubdit Bintibsos Ditbinmas Polda Kaltim Pembina TK. I Setur mengatakan materi penyuluhan mencakup sejumlah ancaman yang dinilai perlu dipahami generasi muda sejak dini.
“Adapun materi utama yang dibahas mencakup berbagai ancaman nyata di era modern, mulai dari bahaya laten narkotika, jeratan judi online, pinjaman online ilegal, hingga ragam modus penipuan digital. Para santri diingatkan agar tidak mudah tergiur dengan tawaran instan di internet,” kata Setur.
Edukasi juga diarahkan pada cara santri menyikapi derasnya arus informasi di media sosial. Polisi mengkampanyekan gerakan “Stop Berita Hoaks” dan mengajak para santri menerapkan prinsip saring sebelum sharing sebelum menyebarkan informasi.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena informasi yang beredar di ruang digital tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya. Santri didorong untuk lebih kritis dalam memeriksa sumber dan isi informasi agar tidak ikut menyebarkan kabar palsu yang berpotensi menimbulkan keresahan maupun konflik.
Mengenalkan AI, Mewaspadai Deepfake
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi bagian dari materi penyuluhan. Teknologi yang semakin mudah diakses tersebut diperkenalkan bukan hanya dari sisi manfaat, tetapi juga potensi penyalahgunaannya.
Para santri dibekali pemahaman mengenai pentingnya etika dalam menggunakan AI. Salah satu ancaman yang diperkenalkan adalah deepfake, yakni teknologi yang dapat digunakan untuk memanipulasi gambar, video, atau suara sehingga tampak seolah-olah merupakan rekaman atau pernyataan asli seseorang.
Edukasi ini diharapkan membantu para santri memahami bahwa kemajuan teknologi perlu diikuti kemampuan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab dan memeriksa kebenaran informasi yang diterima.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ihsan, DR. H. Badruddin, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap pembekalan dari kepolisian dapat membantu membentuk santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama dan intelektual, tetapi juga mampu menghadapi perubahan teknologi secara bijak.
“Melalui program sambang pesantren ini, Polri tidak hanya sekadar memberikan penyuluhan hukum dan keamanan. Kegiatan ini juga menjadi sarana strategis untuk mempererat tali silaturahmi dengan para tokoh agama serta pimpinan lembaga pendidik,” ujar Badruddin.
Badruddin hadir langsung mendampingi kegiatan bersama Kasubdit Bintibsos Ditbinmas Polda Kaltim Pembina TK. I Setur serta jajaran perwira dan personel kepolisian.
Kegiatan sambang pesantren tersebut pada akhirnya tidak hanya ditempatkan sebagai penyuluhan hukum. Pertemuan antara aparat kepolisian dan lingkungan pendidikan keagamaan itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran sejak dini mengenai risiko yang muncul bersamaan dengan perkembangan teknologi.
Pesan yang dibawa kepada para santri pun mencakup dua sisi: menjauhi ancaman seperti narkoba, judi online, pinjaman online ilegal dan penipuan digital, sekaligus menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, lingkungan pesantren diharapkan tetap menjadi ruang pendidikan yang aman dan kondusif, sekaligus mampu membekali santri menghadapi tantangan dunia digital yang terus berubah. ***

