TP PKK Surabaya Gencarkan Literasi Digital bagi Ibu, Cegah Anak Terpapar Pinjol, Judol hingga Cyberbullying

Date:

DCNews, Jakarta — Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya Rini Indriyani menegaskan pentingnya literasi digital bagi para ibu sebagai garda terdepan dalam melindungi anak dari berbagai ancaman di ruang digital, mulai dari judi online, pinjaman online ilegal, hingga perundungan siber.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan gawai oleh anak-anak, para orang tua—terutama ibu—dituntut memiliki pemahaman yang memadai tentang dunia digital agar dapat membimbing dan mengawasi penggunaan teknologi secara aman di lingkungan keluarga.

Rini Indriyani mengatakan, literasi digital menjadi bagian penting dari tanggung jawab orang tua dalam memastikan anak memanfaatkan teknologi sesuai usia dan kebutuhannya.

“Literasi digital itu penting. Literasi digital sebenarnya kepedulian seorang ibu kepada anak-anaknya, kepada keluarganya. Bagaimana menggunakan gadget sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan umurnya,” kata Rini, Jumat (13/3/2026).

Kolaborasi dengan Perangkat Daerah

Untuk memperkuat edukasi tersebut, TP PKK Surabaya menggandeng sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB).

Melalui kolaborasi ini, TP PKK Surabaya menjalankan program parenting melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang digelar hingga tingkat kelurahan dan Rukun Warga (RW). Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang risiko yang dapat muncul di ruang digital.

“Kita berkolaborasi dengan dinas terkait, salah satunya dengan DP3APPKB. Kita mengadakan parenting Puspaga di masing-masing RW,” ujar Rini.

Dalam kegiatan tersebut, para ibu mendapatkan edukasi mengenai berbagai ancaman digital seperti praktik judi online, pinjaman online ilegal, hingga dampak negatif media sosial terhadap anak.

Program Perlindungan Anak

Selain program parenting, TP PKK Surabaya juga menjalankan program KILAS (Keluarga Indonesia Lindungi Anak dari Kekerasan Seksual) yang bertujuan meningkatkan kesadaran keluarga dalam melindungi anak dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang terjadi melalui media digital.

TP PKK juga mengembangkan program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), yang memberikan pembekalan kepada orang tua tentang pola pengasuhan di era digital, termasuk cara mengatur penggunaan gawai pada anak usia dini.

“Di Sekolah Orang Tua Hebat, kami memberikan materi kepada orang tua, salah satunya bagaimana menggunakan gadget yang baik untuk anak usia 0 sampai 6 tahun,” jelasnya.

Edukasi Menjangkau Ribuan RW

Rini menyebutkan, program literasi digital yang dijalankan TP PKK Surabaya telah menjangkau ribuan keluarga di berbagai wilayah kota. Hingga kini, kegiatan edukasi tersebut telah digelar di sekitar 2.400 RW.

“Ada di 2.400 RW yang sudah kita datangi. Jadi mereka sudah mendapatkan edukasi para orang tuanya. Karena sekarang yang perlu diedukasi bukan hanya anaknya, tetapi orang tuanya juga penting,” katanya.

Selain itu, TP PKK Surabaya juga mengembangkan program KEMANGI (Kelas Remaja-Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri) yang menyasar keluarga dengan anak usia remaja. Program ini bertujuan memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap risiko digital.

“Orang tua yang memiliki anak remaja juga mendapatkan materi tentang bagaimana menggunakan gadget secara aman dan bijaksana serta mendampingi putra-putrinya menggunakan teknologi dengan baik,” ujar Rini.

Ancaman Digital Semakin Kompleks

Menurut Rini, ancaman terhadap anak saat ini tidak lagi terbatas pada kekerasan fisik atau verbal di lingkungan sekitar, tetapi juga berkembang di ruang digital, termasuk cyberbullying melalui media sosial.

Karena itu, TP PKK Surabaya juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memperkuat literasi digital bagi keluarga. Pemerintah Kota Surabaya, kata dia, juga telah menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan gadget di kalangan pelajar.

Ia menambahkan, banyak orang tua belum menyadari bahwa konten tidak layak kerap muncul secara tidak langsung melalui iklan atau fitur sponsor dalam aplikasi dan permainan anak.

“Salah satunya kita memberikan edukasi kepada orang tua mengenai aplikasi-aplikasi yang sekarang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Menurutnya, konten kekerasan atau materi tidak pantas dapat muncul secara tiba-tiba ketika anak bermain gim atau menggunakan aplikasi digital.

“Nah, itu kadang-kadang tidak diperhatikan oleh ibu-ibu. Misalnya anak sedang bermain gim, lalu muncul sponsor yang memuat konten kekerasan. Hal-hal seperti itu yang kita edukasikan kepada orang tuanya,” kata Rini.

Upaya literasi digital ini diharapkan dapat memperkuat peran keluarga sebagai benteng utama perlindungan anak di tengah meningkatnya risiko di dunia maya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus, DPR Desak Polisi Usut Tuntas

DCNews, Jakarta — Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman,...

Imbal Hasil P2P Lending Capai 18% per Tahun, Pengamat Ingatkan Risiko Gagal Bayar

DCNews, Jakarta — Imbal hasil tinggi dari investasi pada...

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Turun, UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta per Gram

DCNews, Jakarta — Harga emas batangan yang diperdagangkan melalui...

MA Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar dalam Kasus Monopoli Google Play Resmi Berkekuatan Hukum Tetap

DCNews, Jakarta — Upaya hukum terakhir yang diajukan Google...