Oleh: Dahlan Konsultan (Konsultan Keuangan, sekaligus Pendiri Dahlan Consultant)
MENJELANG Hari Raya Idulfitri, fenomena peningkatan penggunaan pinjaman online (pinjol) di Indonesia kembali menjadi sorotan tahunan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pada periode Ramadan dan Lebaran tahun 2025, jumlah pengguna pinjol legal meningkat sebesar 18% dibandingkan bulan biasa, dengan total nilai pinjaman yang disalurkan mencapai Rp12,5 triliun.
Tradisi konsumsi yang melonjak, mulai dari pembelian pakaian baru, biaya mudik, hingga penyediaan sajian khas Lebaran, mendorong sebagian masyarakat mencari sumber dana cepat untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Di tengah kemudahan akses teknologi finansial, pinjol tampak sebagai solusi instan yang praktis. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: lemahnya perencanaan keuangan dalam rumah tangga.
Lonjakan Konsumsi di Bulan yang Mengajarkan Pengendalian Diri
Ramadan sejatinya adalah bulan pengendalian diri, baik dalam konteks spiritual maupun ekonomi. Puasa mengajarkan disiplin, kesabaran, serta kemampuan menahan diri dari berbagai keinginan.
Ironisnya, menjelang akhir bulan suci ini justru muncul perilaku konsumsi yang meningkat tajam. Banyak keluarga mengalami tekanan finansial karena pengeluaran melonjak sementara pendapatan tidak berubah secara signifikan. Ketika keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan terganggu, sebagian orang mengambil jalan pintas melalui pinjaman online.
Studi Kasus: Tekanan Sosial dan Pilihan Berutang
Sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LPES) terhadap 500 keluarga di wilayah Jabodetabek pada tahun 2025 menemukan bahwa 62% responden yang menggunakan pinjol menjelang Lebaran mengaku pengeluaran mereka meningkat lebih dari 30% dibandingkan bulan biasa.
Salah satu responden, Siti (35), seorang ibu rumah tangga di Depok, mengaku mengambil pinjaman sebesar Rp3 juta untuk membeli pakaian baru bagi keluarga dan menyajikan hidangan Lebaran yang berlimpah.
“Saya merasa malu jika tidak bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga dan tamu saat Lebaran. Pendapatan suami saya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi tidak cukup untuk menutupi pengeluaran tambahan ini. Saya pikir pinjol adalah solusi cepat, tapi setelah Lebaran, saya dan suami harus berjuang membayar cicilan dengan bunga yang tinggi,” ujarnya.
Kegagalan Perencanaan dalam Akuntansi Rumah Tangga
Dalam perspektif akuntansi rumah tangga, kondisi ini mencerminkan kegagalan dalam menerapkan prinsip dasar pengelolaan keuangan: perencanaan, penganggaran, dan pengendalian.
Setiap rumah tangga pada dasarnya dapat dipandang sebagai entitas ekonomi kecil yang memiliki arus kas, aset, kewajiban, serta ekuitas. Ketika pengeluaran untuk konsumsi Lebaran tidak direncanakan sejak awal tahun atau sejak awal Ramadan, defisit kas menjadi sulit dihindari.
Pinjol kemudian hadir untuk menutup defisit tersebut. Namun solusi ini sering kali hanya bersifat jangka pendek dan justru menciptakan masalah baru setelah hari raya usai.
Risiko Utang Konsumtif dan Bunga Tinggi
Beban cicilan, bunga tinggi, serta denda keterlambatan dapat memperburuk kondisi keuangan keluarga. Data OJK juga menunjukkan bahwa tingkat keterlambatan pembayaran pinjol legal pada periode pasca-Lebaran tahun 2025 mencapai 12%, meningkat sebesar 5% dibandingkan bulan biasa.
Dari sudut pandang akuntansi, keputusan mengambil pinjaman untuk konsumsi yang tidak produktif merupakan ketidaksesuaian antara kewajiban dan manfaat ekonomi jangka panjang.
Fenomena ini juga memperlihatkan lemahnya literasi keuangan masyarakat. Banyak orang memahami pinjol hanya sebagai akses uang cepat, tanpa menghitung biaya modal yang sebenarnya. Dalam akuntansi keuangan, setiap utang memiliki konsekuensi biaya yang harus dihitung secara rasional.
Jika tingkat bunga pinjaman jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan pendapatan rumah tangga, maka keputusan tersebut secara ekonomi tidak rasional.
Tekanan Sosial dan Budaya Konsumsi Lebaran
Lebih jauh lagi, perilaku konsumsi berlebihan menjelang Lebaran sering kali dipicu oleh tekanan sosial. Tradisi budaya yang menuntut “penampilan terbaik” saat Lebaran membuat sebagian orang merasa perlu membeli pakaian baru, memberikan amplop kepada kerabat, atau menyajikan hidangan berlimpah.
Tradisi tersebut tentu memiliki nilai kebersamaan. Namun ketika dipenuhi dengan cara berutang melalui pinjol, makna spiritual Ramadan justru tereduksi oleh tekanan konsumsi.
Akuntansi Keluarga sebagai Solusi
Akuntansi keluarga menawarkan pendekatan sederhana namun efektif untuk mencegah fenomena ini.
Pertama, keluarga perlu menyusun anggaran Lebaran sejak jauh hari. Pengeluaran untuk mudik, zakat, sedekah, pakaian, dan konsumsi seharusnya sudah diproyeksikan sejak awal Ramadan atau bahkan sejak awal tahun, sehingga dapat dipenuhi melalui tabungan bertahap, bukan utang mendadak.
Kedua, penting menerapkan prinsip prioritas dalam pengeluaran. Dalam akuntansi manajerial, konsep pengendalian biaya menekankan bahwa setiap pengeluaran harus dievaluasi berdasarkan nilai manfaatnya.
Lebaran tidak diukur dari seberapa mahal pakaian atau seberapa banyak makanan di meja, melainkan dari kualitas silaturahmi dan kebersamaan keluarga.
Ketiga, rumah tangga perlu membangun dana cadangan. Dana ini berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi kebutuhan mendadak sehingga keluarga tidak mudah tergoda oleh pinjaman instan.
Dalam perspektif akuntansi keuangan, dana cadangan merupakan bagian dari strategi manajemen risiko yang penting untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga.
Mengembalikan Makna Lebaran
Ramadan sebenarnya adalah momentum terbaik untuk memperbaiki disiplin finansial. Spirit puasa mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri.
Jika nilai-nilai ini diterapkan dalam pengelolaan keuangan keluarga, maka fenomena “pinjol Lebaran” seharusnya dapat diminimalkan. Lebaran tidak harus dirayakan dengan konsumsi berlebihan yang berujung pada beban utang.
Maraknya pinjol menjelang Lebaran bukan semata-mata persoalan teknologi finansial, tetapi cerminan dari lemahnya perencanaan keuangan rumah tangga. Tanpa perencanaan yang baik, tradisi tahunan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi sumber tekanan ekonomi setelah hari raya usai.
Lebaran seharusnya menjadi momen kemenangan spiritual, bukan awal dari siklus utang baru. Karena itu, membangun kesadaran akan pentingnya akuntansi keluarga dan perencanaan finansial menjadi langkah penting agar masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan lebih bijak, tenang, dan berkelanjutan secara ekonomi. ***

