DCNews, Jalarta — Pergerakan pasar keuangan global pada Minggu (15/3/2026), menunjukkan volatilitas yang dipicu ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, serta penguatan dolar Amerika Serikat. Kombinasi faktor tersebut mendorong investor global mengalihkan sebagian portofolio ke aset lindung nilai seperti emas, sementara pasar saham teknologi menghadapi tekanan.
Kondisi pasar menjelang pembukaan perdagangan pekan depan memperlihatkan dinamika yang kontras antara komoditas, mata uang utama, dan indeks saham teknologi.
Emas Menguat Didukung Permintaan Safe Haven
Harga emas dunia tetap bertahan di level tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Logam mulia ini diperdagangkan di kisaran US$2.150–US$2.170 per troy ounce, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi energi.
Selain faktor geopolitik, emas juga mendapat dukungan dari pembelian bank sentral sejumlah negara serta meningkatnya minat investor institusional terhadap aset lindung nilai.
Minyak Mendekati US$100 per Barel
Harga minyak mentah dunia bergerak naik dengan Brent crude mendekati US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Pasar energi global juga mencermati potensi gangguan distribusi minyak melalui jalur pelayaran strategis, yang dapat mempengaruhi pasokan global dalam jangka pendek.
EURUSD
Pasangan mata uang EUR/USD bergerak relatif stabil namun cenderung melemah terhadap dolar AS. Penguatan dolar didorong meningkatnya permintaan aset aman serta ekspektasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat masih akan tetap ketat dalam waktu dekat.
Euro diperdagangkan di kisaran 1,08–1,09, dengan investor menunggu sinyal kebijakan lanjutan dari bank sentral utama dunia.
GBPUSD
Nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS berada di sekitar 1,33. Pergerakan pound masih tertekan oleh penguatan dolar global serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi Inggris.
Meski demikian, pasar masih mencermati prospek kebijakan suku bunga Bank of England yang dapat mempengaruhi arah pergerakan mata uang tersebut dalam beberapa pekan ke depan.
USDJPY
Pasangan USD/JPY diperdagangkan menguat di kisaran 148–150, mencerminkan dominasi dolar AS terhadap yen Jepang. Perbedaan tingkat suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang masih menjadi faktor utama yang mendorong penguatan dolar terhadap yen.
Nasdaq Hadapi Tekanan
Indeks saham teknologi Nasdaq menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Lonjakan harga minyak berpotensi memicu kembali tekanan inflasi, yang pada akhirnya dapat menunda pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Pasar Mod Global dalam Fase Risk-Off
Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan mekuhat bahwa secara keseluruhan, pasar global saat ini bergerak dalam fase risk-off terbatas, di mana investor lebih berhati-hati menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan potensi inflasi energi.
Sedang kenaikan harga minyak, meurut dia, menjadi variabel utama yang dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter global serta pergerakan pasar saham dalam jangka pendek.
“Apabila ketegangan geopolitik terus meningkat dan harga energi tetap tinggi, emas berpotensi melanjutkan tren penguatan sementara pasar saham—terutama sektor teknologi—dapat menghadapi tekanan lanjutan pada pekan perdagangan mendatang,” kata pria yang akrab disapa Kang Dahlan tersebut. ***

